Ibadah raya – Minggu ke-3, 18-09-2011

PembicaraPdt. Refly Lumingas, S.Th, MA

Tema: Dipulihkan untuk Memulihkan

Ayat Nats: Yesaya 54:1-5

Semua orang  pada dasarnya ada kemauan untuk berubah atau dipulihkan, suatu keadaan hidup dimana seseorang mengalami sebuah perubahan dari dalam dirinya sendiri, dari suatu keadaan yang semula dianggapnya sudah baik, ideal dan benar, dipulihkan supaya kebenaran Tuhan semakin bercahaya bersinar dari dalam diri orang tersebut. Lalu seberapa besar ukuran dari sebuah pemulihan? dan untuk tujuan apa kita dipulihkan? Yesaya 54:1-(5) menggarisbawahi, bahwa esensi (pengertian) paling mendasar dari sebuah pemulihan, khusunya dalam kaitannya dengan umat Tuhan, akan selalu berpusat dari dan kepada Tuhan, sekalipun melalui kita sebagai umat-Nya, “Sebab yang menjadikan engkau, Tuhan semesta alam nama-Nya, yang menjadi penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi”

Dengan demikian Pemulihan harus terjadi justru harus dari dalam diri kita sendiri lebih dahulu. Sama seperti Yesus Kristus, sebelum Dia naik kembali ke Surga yang mulia, Dia lebih dahulu (atas kehendak bapa-Nya) harus mengalami banyak penderitaan, sebagai bentuk pemulihan dari seluruh keadaan fana-Nya, sebagai akibat dari ketidaktaatan dan dosa-dosa kita, demikian juga terjadi didalam kehidupan para tokoh Iman yang lainnya (Ibrani 11:1-39)

Ada 4 hal yang bisa kita pelajari untuk kita bisa mengalami pemulihan darii Allah,

1. Tunduk kepada (Otoritas) Allah (Yakobus  4:7). Dengan tunduk kepada Allah, kepada kita diberi kuasa untuk dimuliakan oleh Allah ketika Iblis (atas izin Allah) berusaha untuk menghancurkan kita. Dibungkus, disembunyikan didalam kekuasaan perlindungan Allah.

2. Taat kepada Firman Tuhan (hukum2 Tuhan). Josua (Yosua 1:8), berbeda dengan Musa, Musa tidak taat, dia tidak diizinkan masuk kedalam tanah perjanjian. (berubah menjadi tidak setia kepada Tuhan). Karna dasar ketaatan kita kepada Allah  adalah Kesetiaan Allah dan keadilan Allah dalam hal menggenapi janji-janji-Nya. Keselamatan yang telah kita terima dari Kristus, keselamatan itu juga yang seharusnya menimbulkan sebuah kesadaran pentingnya mempelajari hukum2 Tuhan, dan bukan untuk ditiadakan, karena dengan membaca, merenungkan hukum-hukum Tuhan, kita bisa selalu berkaca, siapa sesungguhnya kita dihadapan Tuhan (tidak lupa diri kemudian menjadi angkuh)

3. Markus 11:24, Harus berdoa dengan Iman (Markus 11:24), hal ini penting dalam kaitannya dengan pemulihan. Pemulihan yang dimaksud bukan hanya sebatas pemulihan secara kasat mata, melainkan dalam bentuk pembaharuan suara hati nurani. Simak saja orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yang hidup secara duniawi, sekalipun secara ekonomi mereka tampak dipulihkan melalui kerja kerasnya, tapi sesungguhnya mereka tidak berdaya melepaskan diri dari suara hati nurani yang jahat. Dari sanalah bersumber segala kejahatan. Melalui hubungan yang akrab dengan Tuhan, oleh Iman kita kepada-Nya, hati  nurani kita dimurnikan oleh Tuhan menjadi semakin baik dan kudus.

4. Harus tetap percaya kepada kehendak Tuhan (Ibrani 6:12), Efesus 5:17  juga menekankan, pentingnya menggunakan waktu yang ada, untuk mengerti kehendak Tuhan. Sekalipun waktu berputar seperti sebuah lingkaran yang bisa kita lihat pada jarum jam, tidak seorangpun yang mengetahui hari esok, apa dan bagaimana model kehidupan yang akan dialaminya. Untuk itulah pentingnya mempercayakan hidup kita kedalam kehendak Tuhan, karna didalam kehendak-Nya, kita bisa mengetahui bahwa Allah yang kita sembah bukan Allah perancang kejahatan, maka amanlah jiwa kita.

 

 

Kekristenan bukan sebatas kehidupan dan tanggung jawab mematuhi aturan-aturan keAgamaan dihadapan Manusia, melainkan spiritualitas yang Imanen, ditaburkan oleh Tuhan kedalam hati untuk bertumbuh dan berbuah-buah, melalui sikap, pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Sehingga sebagai umat Tuhan, kita tidak bisa melepaskan diri kita dari tanggung jawab memberikan pengaruh yang baik dan benar terhadap dunia, bahwa didalam diri kita ada Terang kehidupan (Kristus), yang dapat menerangi seluruh isi dunia yang sudah dikuasai oleh ketakutan dan kejahatan (menjadi kesaksian). Untuk itu ada beberapa tahapan dan kriteria tentang bagaimana Firman Tuhan mengajarkan kita sehingga kita bisa menjadi berkat, memulihkan dan menjadi kesaksian bagi orang-orang yang ada dilingkungan keseharian kita.

1. Berani dan tanggap menghadapi tantangan, melalui sikap penaklukkan diri terhadap Kebenaran, sekeras dan sesakit apapun kebenaran tersebut. Menganggap kesetaraan dengan (sebagai umat pilihan) Anak2 Allah, adalah sebuah  realitas hidup yang teramat sangat mulia, jika dibandingkan dengan keadaan dan kesehariannya sebagai bangsa Non Israel. (Markus  7:25-30 ), ketika Yesus meresepon permohonan seorang perempuan yang anaknya sedang didera oleh penyakit, dengan cara yang tidak terduga, menyetarakan perempuan itu setara dengan seekor anjing  “Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”. Yang perlu jadi bahan renungan ialah, waktu itu sosok Yesus belum seperti Yesus yang sekarang yang sudah kita ketahui, yang dengan mudahnya sekarang kita panggil sebagai Tuhan, dalam pandangan perempuan tersebut, Yesus saat itu benar-benar nyata dalam sosok seorang Manusia, jika dia tidak memiliki Iman (kebenaran yang datangnya dari Allah), tidak mungkin dia bisa menangkap bahasa Kasih Allah yang ada didalam ucapan Yesus yang sangat menyakitkan di telinga orang yang tidak berIman.

2. Taat kepada Perintah Tuhan (Lukas 5:4), Bahwa ketaatan bukan hanya sebatas ditujukan kepada atau sekedar menyenangkan Manusia, menyangkut  hal-hal yang dangkal, yang tidak mendidik kearah pendewasaan rohani, melainkan bagaimana menimbulkan kesadaran untuk  benar-benar taat kepada Tuhan (tidak bimbang). Karena melalui ketaatan kita kepada Tuhan, berarti kita mau sepakat dengan Tuhan, melepaskan semua beban kekhawatiran  dan ketakutan yang sering membuat kita tidak taat. Petrus (Matius 14:28-31), salah satu murid Yesus yang pernah menikmati kekuasaan Tuhan, berjalan diatas air!, selama dia tetap fokus pada Tuhan, ketakutan untuk berjalan diatas air yang dalam tidak menguasai dirinya, dan hal itu sempat Tuhan buktikan melalui ketaatan Petrus, sebaliknya ketika dia membiarkan dirinya (tidak waspada) dikuasai oleh kekhawatiran dan ketakutan terhadap riak dan ombak tenggelamlah Petrus, untung Tuhan Yesus menyelamatkannya “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

3. Berani melangkah dengan Iman. Ibrani 11:24-25, Musa setelah dididik dalam hikmat Mesir, didalam dirinya timbul kesadaran untuk memilih bersehati dengan Umat Isreal yang sedang mengalami penderitaan, dimana Imannya bisa teruji membentuk kepemimpinan Allah atas hidupnya menjadi semakin bertumbuh dan berbuah-buah. Roma 10:17 (timbulnya kebenaran karna Iman, datangnya dari mendengar Firman Kristus), artinya fungsi Iman kita kepada Tuhan justru bekerja bukan disaat kita berada didalam keadaan yang terus menerus nyaman, malah sebaliknya, Iman itu menjadi bertumbuh didalam diri kita, ketika kita merasa terpanggil untuk sependeritaan dengan sesama kita yang sedang mengalami penderitaan karna kebenaran.

Salam Sejatera.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: