Hikmat Dunia didalam genggaman Allah

Fisikawan terkenal, Prof. Stephen Hawking mengatakan dalam bukunya A Brief A History of Time, bahwa alam semesta dibangun berdasarkan perhitungan dan keseimbangan yang lebih akurat dari yang dapat kita bayangkan. Dengan merujuk pada kecepatan mengembangnya alam semesta, Hawking berkata: “Jika kecepatan pengembangan ini dalam satu detik setelah Big Bang berkurang meski hanya sebesar angka satu per-seratus ribu juta juta, alam semesta ini akan telah runtuh sebelum pernah mencapai ukurannya yang sekarang bisa kita lihat secara kasat mata …

 

Akurasi penempatan, ketelitian atau ketepatan dalam menempatkan seluruh ciptaanNya sampai bisa tersebar diseluruh jagat raya ini, bisa menjadi ciri khas cara kerja Allah yang telah tertangkap oleh hikmat dunia yang haus akan pengetahuan. Bahwa segala sesuatunya akhirnya ditampakan juga kepada akan budi mereka secara begitu teraturnya. Bahwa yang sekarang telah ditampakan secara kasat mata, sebenarnya masih menyimpan begitu banyak misteri tentang ketiadaan (tak tertampak), yang konon mereka sebut sebagai keberadaan Sang Pencipta.

 

Roma 1:20 – Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya,yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih

 

Namun, mungkin karena sudah menjadi ketentuan sejak awalnya, sebagaimana fakta yang bisa kita lihat, bahwa benda2 yang ada diorbitnya masing-masing, yang tampaknya terpisah-pisah itu, seluruhnya tetap bergelantungan didalam satu jagat raya yang begitu luas, terangkum menjadi sebuah kesatuan, mulai dari kesatuan yang terkecil sampai kepada kesatuan yang terbesar, bisa menjadi gambaran adanya sebuah kekuasaan, yang oleh Alkitab disebut sebagai Hikmat Dunia, karena sedemikianlah keberadaannya, bila kita mau merenungkan secara lebih mendalam dengan segenap ketulusan hati.

 

1 Korintus 3:19 – Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.

 

1 Korintus 1:21 – Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

 

Bahwa manusia (alamiah) yang adalah bagian yang paling kecil dari struktur alam yang begitu luas, telah ditentukan oleh kehendak bebasnya sendiri, sebagai bagian yang paling dalam, pemegang kekuasaan atas dirinya sendiri melalui peranan akal budi mereka, sekaligus menjadi penterjemah misteri kekuasaan Alam Semesta itu sendiri. Sekalipun mereka tidak akan pernah bisa terlepas dari kekuasaan kodrat alamiah mereka, dalam pencarian mereka terhadap kekuasaan yang lebih tinggi dari yang mereka miliki.

 

Sehingga, setajam apapun pencarian mereka, keadaan merekalah yang akan selalu membatasi, dan mereka tidak akan pernah bisa menembus keluar dari kodrat alamiahnya, selain hanya sejauh menyaksikan dan menceritakan dalam bentuk (wujud) secara kasat mata.

 

Pencarian terhadap hakikat asal usul Alam Semesta, memang akan selalu berlangsung terus menerus, karena keberadaan suatu ketiadaan yang konon disebut sebagai sumber dari segala yang telah ditampakan kepada manusia, karena kebenaran akan selalu menutupi dirinya sendiri, supaya nyata dikemudian hari bahwa Dia benar-benar ada!, ketika benda2 alamiah tersebut sudah tidak dapat lagi menguasai dirinya sendiri, ketika kepada mereka ditampakan yang jauh lebih sempurna kelak.

 

“Alkitab tidak mengajarkan kepada kita bagaimana cara Allah menciptakan segala sesuatu, disana kita diajarkan untuk percaya bahwa DIA-lah penciptanya. Keselamatan yang sudah Allah berikan kepada kita melalui Tuhan Yesus Kristus, tidak harus dimaknai melenyapkan, meniadakan pencarian manusia terhadap bukti2 kasat mata adanya keadilan, keteraturan, ketertiban sebagai refleksi kearifan Tuhan.

 

Adalah arif dan bijaksana apabila Kristen tidak melecehkan Ilmu Pengetahuan apalagi dengan memakai alasan pertimbangan Iman kepada Tuhan, karena Tuhan juga ikut bekerja didalam segala sesuatu yang kita anggap fana untuk mendatangkan kebaikan, bagi hormat dan kemuliaan-Nya. Kecuali kita tidak tetap teguh berdiri atas Iman kepada DIA – Tuhan tidak mungkin keliru baik ketika Dia memberikan Ilham kepada para penulis Alkitab, demikian juga ketika Ia menyatakan kearifan-Nya dalam mewujudkan keteraturan pada pengamatan kasat mata para Ilmuwan – Yang harus terus menerus diluruskan adalah pemikiran kita (manusia), baik terhadap kebenaran tentang Tuhan maupun realitas sesungguhnya yang ada di Alam Semesta ini.

 

-Salam Sejahtera-

Engkau Tuhan Kekagumanku Didalam Sesamaku

Tabut PerjanjianEngkau

Tuhan yang telah membuat aku ada sebagaimana adanya aku dihadapan ke-Maha tahuan-Mu, tak satupun yang dapat kusembunyikan dihadapan-Mu, kata telanjang sekan tidak cukup menggambarkan betapa hina dan kotornya setiap kosa kata yang terbentuk didalam diriku, sekalipun hanya untuk menceritakan betapa agungnya kehendakmu bekerja didalamku…

Tuhan

seandainya Engkau adalah sahabatku, untuk apa hal itu kuungkapkan kepada-Mu, karena aku telah menjadi begitu berani dan berkata kepada-Mu:”Hai sobat-ku”, tentu Engkau akan menertawakan aku, saat Engkau dapati aku, ternyata hanyalah ciptaan-Mu..

Kekagumanku

menjadi sebuah kesia-siaan ketika kuceritakan kepada-Mu, selain jika kukatupkan mulut nistaku, dan membiarkan Engkau sendiri berkarya didalam setiap detail karya cipataan-Mu ini, karena ternyata Engkaupun tiada henti bertutur di kedalaman relung hatiku, bahwa semua ciptaan-Mu sempurna dihadapan-Mu…

Didalam

hidupku yang kutemukan akhirnya hanya sebatas pemahaman, karena sebesar apapun pengetahuan yang telah Engkau berikan kepadaku, dari sejak masa kecilku, ternyata hanya menimbulkan kepenatan kepenatan yang tak terpahami, sementara orang berkata, bahwa Engkau bertahta di tempat yang Maha Tinggi, sementara aku tak memahami setinggi apakah telah Engkau kokohkan tahta-Mu, dihadapan semua karya ciptaan-Mu…

Sesamaku

manusia adalah sesamaku, mereka juga memahami, bahwa mereka adalah ciptaan-Mu, bahkan ada juga yang percaya sebagai milik-Mu, dan jika mereka benar adalah milik-Mu, setidaknya berilah kesempatan kepadaku sekali ini saja, untuk aku mengenal-Mu, sebagaimana mereka selama ini telah berjuang lelah untuk mengenal sesamanya, ampuni aku Tuhan, setkiranya kalimat yang panjang ini tidak Engkau butuhkan, selain tolonglah Engkau maklumi saja, bahwa aku dan sesamaku ada, karena memang sesungguhnya Engkau telah ada bersama-sama dengan kami, sampai saat ini, Amin.

Pengabdian didalam Kesadaran Spiritualitas

Bumi ini sudah dipenuhi dengan Pendidikan dan Pengetahuan, sedemikian-lah kesulitan kita bahkan untuk menemukan individu, komunitas, generasi yang sungguh sungguh hidup didalam ‘kesadaran’.

Sama seperti ketika Elia putus asa. Jika Tuhan tidak berfirman kepada-nya, bahwa (ternyata), masih ada 7.000 orang yang tidak menyembah baal, dan mencium-nya. 1 Raja2 19:18. Karena ‘kesadaran’ adalah, mengetahui yang tidak kita ketahui, dengan demikian tidak ada 1 pun alasan bagi orang yang hidup didalam ‘kesadaran’ bermegah didalam apapun yang telah diketahuinya.

Dengan mengetahui apa yang tidak diketahui, maka ini sudah tinggal selangkah lagi untuk membebaskan diri dari penjara logikanya sendiri yang ternyata masih sempit. Sementara orang yang tidak sadar, biasanya mengira (secara sepihak), bahwa dia adalah orang pintar, sebab dia tidak (belum) mengetahui apa yang tidak diketahuinya, akibatnya orang tersebut lalu menjadi sombong karena tidak mengetahui apa yang tidak diketahuinya, dan mengira bahwa dia sudah mengetahui segala sesuatu.

antara Pendidikan Pengetahuan dan Kesadaran…

Seorang yang ber-Pendidikan  sudah pasti memiliki sejumlah pengetahuan didalam dirinya, uniknya ketika kita membahas masalah pendidikan, disana kita menemukan banyak sekali bias yang timbul, Tetapi pada dasarnya pengertian Pendidikan dapat kita tinjau dari kata pembentuknya. Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’. Karena mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Dalam pelaksanaannya yang namanya pendidikan bisa mencakup banyak bahasan berikut dengan keragaman fungsi, tujuan dan kedudukannya masing-masing.

Secara bahasa definisi pendidikan adalah, proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, yang dibagi menjadi 2 kelompok: Pendidikan Formal (wajib) dan Non Formal (tidak wajib), biasanya pendidikan non Formal sifatnya untuk melengkapi, agar pengetahuan yang telah diperoleh di Pendidikan Formal, bisa berkembang menjadi suatu keterampilan tertentu, dipertajam disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masing-masing (dalam bentuk kursus, pelatihan dan sebagainya), sekalipun direalitasnya definisi antara pendidikan formal dan non formal menjadi rancu, karena makin merebaknya lembaga pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan perkuliahan sebanyak dua sampai tiga kali seminggu dimana tanda kelulusan yang diberikan berupa degree pendidikan yang ber ijasah (formal).

Sementara dalam hal Pengetahuan,

sifatnya lebih elementer (mendasar) lagi, karena seorang yang tidak pernah mengecap dunia pendidikan sekalipun, baik Formal maupun Non Formal, didalam dirinya secara alamiah telah terbentuk benih-benih yang disebut “Pengetahuan” melalui pergaulannya sehari-hari. Dari kata dasar “tahu” yang diberi awalan “Pe(nge)” dan berakhiran “an”, hampir  sebagian besar, terbentuknya melalui sebuah pengalaman.

Di dunia perbankan, swasta khususnya, banyak lahir para Bankir-Bankir yang tangguh, dengan daya juang serta skill individu yang bisa melampaui para bankir dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, karena sebagian besar dari mereka biasanya (walau tidak semua), lebih teruji terbentuk dari pengalaman, karenanya biasanya mereka leading (unggul), serta dibutuhkan karena kemampuan dan kematangan dalam hal kepemimpinan (leadership).

Tidak demikian halnya dengan Kesadaran

Karena membahas hal yang satu ini, apalagi jika dihubungkan dengan dinamika kehidupan ke-Kekristenan, mau tidak mau semua bahasan, atau berupa klausul2, metodologi sampai kepada kiat-kiat peraihan berbentuk kata-kata motivasi (bijak), pencapaian alam kesadaran yang lebih mengedepankan kepada “cara”, akan segera runtuh seketika manakala secara terburu-buru (membabi buta) kita perhadapkan kepada Kebenaran Injil Kristus yang lebih mengedepankan “kuasa” Imanen atas dasar anugerah dan kasih karunia yang berbasis pada realitas adanya kedaulatan Allah atas segala sesuatu (Roma 11:32-33).

Tapi setidaknya izinkan saya lebih dulu menawarkan (menyuguhkan) sebuah “View” (pemandangan), yang nantinya bisa kita jadikan alat pengantar terhadap realitas konkret-nya, betapa mahal dan dalamnya letak kedudukan “kesadaran” tersebut, apalagi terkait dengan betapa agung dan sederhananya nilai-nilai spiritualitas yang Imanen yang telah kita terima dari Kristus.

=============================================================

Tindakan “Terburu-buru (secara gegabah) meletakkan nilai-nilai Subyektiv kedalam sebuah materi bahasan yang Obyektiv, bukan saja berbuah pendangkalan terhadap obyek bahasan, dampaknya juga bisa berakibat kepada, lunturnya nilai-nilai Subyektiv yang paling ideal menyangkut relasi dengan Tuhan dan sesama”.  Abel

=============================================================

Belajar dari kisah sulung dan bungsu (Lukas 15:11-32)

 Melalui perumpamaan tersebut, saya mengajak rekan-rekan pembaca untuk menyimak kisah Sulung dan Bungsu didalam kerangka pertanyaan, apa dan bagaimana sesungguhnya Kerajaan Surga, dan bukan untuk mencari, menemukan, menentukan, memutuskan siapa diantara kedua kakak beradik tersebut yang terbukti memiliki kesadaran?, karena secara moral kita sepakat, si Sulung tentu tampak lebih beretika melalui sikap penghormatannya terhadap bapanya yang masih hidup, menyangkut keberadaan dan haknya sebagai ahli waris, bila dibandingkan dengan sikap, dan perbuatan adiknya.

Dalam konteks pembahasan soal kesadaran, dan kaitannya dengan relasi antara Allah dan Manusia, Yesus tidak menempatkan Kebenaran hanya sebatas hasil perbuatan orang per orang, karena melalui perumpamaan tersebut, sesungguhnya Yesus sedang menyatakan sebuah kebenaran tentang kesadaran secara utuh, tentang bagaimana nilai-nilai Kerajaan Surga sedang Allah kerjakan didalam diri Yesus anak Tunggal-Nya.

Bahwa disana ada pesan tunggal tentang kekuatan relasi antara Bapa dan Anak yang teruji melalui sebuah pengalaman yang tidak bisa dipahami oleh si Sulung, bahkan oleh si Bungsu.

Karena siapa yang dapat memastikan, bahwa ternyata dihadapan Bapa mereka, ada 3 hal yang bisa kita petik sebagai sebuah hikmah atau perenungan:

(1) kembalinya si Bungsu adalah jauh lebih berharga daripada sekedar bersepakat dengan kegusaran anaknya yang Sulung?  (Lukas 15:28-29), kemudian siapa juga yang dapat memastikan,

(2) bahwa si Bungsu yang telah menghamburkan sejumlah kekayaan, pada akhirnya menyadari kesalahan dan dosa-dosanya?  (Lukas 15:17-19), bahkan

(3) siapa yang dapat menduga, kalau ternyata si Sulung tidak dapat membantah kebenaran sikap dan pendirian Bapa-nya?  (Lukas 15:31-32),

Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Kita-pun tahu bahwa Yesus sebagai Anak Allah tidak pernah kekurangan hikmat dalam membagikan beberapa perumpamaan, tetapi ada satu hal yang Yesus mau nyatakan kepada kita melalui perumpamaan tersebut, jauh melampaui sekedar mempercakapkan kemampuan-Nya dalam mengajar atau membagikan beberapa perumpamaan tersebut, bahwa DIA benar-benar menempatkan relasi-Nya dengan bapa-nya di Surga, dalam tingkat kesadaran yang amat tinggi, bahkan kalau boleh saya katakan “Levelitas tertinggi”, bahwa Kerajaan Surga sesungguhnya adalah sarat dengan kemurahan hati, dan bukan seberapa besar pengaruh atau akibat dari perbuatan Manusia terhadap kebenaran.

Silahkan disimak dengan kesungguhan hati, bukankah kesadaran Yesus terhadap kehendak bapa-Nya, ketika Dia berdoa di taman getsemani “tetapi kehendak-Mulah yang jadi”, bukan sekedar sebatas kesadaran terhadap sesuatu yang telah diketahui-Nya, bisa Dia terima dan alami? Sangat sederhana bukan?

Tapi tidak sesederhana yang kita bisa bayangkan, ketika kita membaca bagaimana putus asanya seorang Elia yang kita kenal dilengkapi oleh kekuasaan (hikmat) Tuhan dengan segala mujizat-mujizat (keajaiban) yang menyertainya, setelah dia menempuh perjalanan panjang pelayanan dan pengabdiannya yang sarat dengan tantangan (Maut), harus berakhir di satu titik pemahaman, ternyata telah banyak nabi2 (selain dirinya) yang telah dibunuh ,

Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.”  (1 Raja-Raja 19:14), bahwa seutuhnya, baik hidup dan dan pelayanan Elia sepanjang hidupnya, dalam hal “Kesadaran” bergantung total kepada 2 hal seperti yang disebutkan oleh Rasul Paulus didalam aya-ayat berikut ini:

1. Kedaulatan Allah melalui hikmat-Nya atas segala sesuatu (baca Roma 11:32-33) 

Tidak ada satupun manusia yang dapat menembus kekuasaan kedaulatan Hikmat Allah yang sedemikian (mengurung) luas dan dalam, hanya dengan sekedar katakanlah, bermodalkan “Kebenaran”, sehingga manusia dengan mudahnya bisa menimbulkan sebuah kesadaran didalam dirinya sendiri dalam hal ketaatan kepada Allah.

2. Kemurahan hati Allah kepada siapa Dia berkenan menyatakannya (baca Roma 9:15)

Tidak ada satupun manusia yang dapat memastikan eksistensi ketaatan-nya kepada Tuhan, sebuah bentuk prestasi Individu yang terbentuk dari perbuatan-perbuatan yang dianggapnya dan diyakininya adalah benar sekalipun.

 

Barangsiapa dengan kesungguhan hati beribadah kepada Tuhan, padanya bukan saja disediakan masa depan yang baik, malahan kepadanya Tuhan tambahkan, bahwa masa depannya bukan hanya dibangun dengan perjuangan dan air mata ke sia2an, karena atas semuanya itu, Tuhan sendiri-lah yang menjadi saksi, bahwa kepadanya Tuhan telah berkenan, sekarang dan untuk selamanya. Abel.

Salam Sejahtera.

Karya kreasi dan kesederhanaan

A page from the mysterious Voynich manuscript,...

Manuscript

Dari pemikiran yang sederhana bisa terbentuk sebuah karya-kreasi besar, sekalipun bukan hal yang mudah untuk menyederhanakan sebuah pemikiran.

Godaan berpikir luas, dengan pola melebar se-besar-besarnya, menjadi penyebab kenapa sebagian orang mengalami kesulitan menemukan bentuk paling ideal, yang paling pas bagi dirinya sendiri, dengan demikian bisa juga menjadi manfaat bagi banyak orang.

Kreativitas dan kesederhanaan adalah milik dan hak semua orang, sekalipun tidak semua orang bisa memahami secara sederhana kedua hal tersebut. Ada orang yang sanggup menyederhanakan pikirannya sendiri terhadap hal-hal yang sesungguhnya tidak sesederhana yang dia pikirkan.

Seseorang tidak harus menjadi seorang yang pakar dibidang yang diminatinya sekalipun, apalagi kalau hanya sekedar untuk meraih apa yang dianggapnya sudah ideal dan sederhana bagi dirinya sendiri. Uniknya tidak ada kepakaran yang tidak melibatkan upaya-upaya untuk berjuang berpikir sederhana.

Seorang orator bisa saja berjuang habis-habisan untuk menyampaikan orasinya secara sederhana, supaya terdengar sederhana di telinga pendengarnya.

Seorang Penulis merevisi semua karya tulisnya, sampai menemukan bentuk yang paling ideal untuk bisa disebut sederhana, tetapi mereka tidak akan pernah bisa menemukan cara yang sederhana, untuk meyakinkan seseorang yang enggan berjuang meningkatkan kemampuan berpikir sederhananya.

Bahkan seorang pembaca bisa saja berjuang habis-habisan untuk bisa memahami sebuah karya tulis yang diminatinya sekalipun dianggapnya tidak sederhana, seraya berjuang untuk lebih menyederhanakan lagi kemampuan berpikirnya, tetapi mereka juga tidak akan pernah bisa menemukan cara yang sederhana, untuk meyakinkan seseorang yang enggan berjuang meningkatkan kemampuannya untuk berpikir sederhana.

Segala sesuatu ada manfaatnya

A picture taken halfway through a high level a...

Ada manfaatnya masing-masing

Adakah sesuatu yang kita sebut besar tanpa kita lebih dahulu pernah melihat yang lebih kecil?, atau adakah bola basket dapat kita sebut lebih besar dari bola tenis, tanpa kita lebih dahulu melihat seberapa besar ukuran bola tenis tersebut?

Adakah kehormatan telah berpihak? Sebagai contoh, mari kita simak sebuah pertandingan tinju misalnya, ketika petinju A dapat menaklukkan petinju B, semua mata (penonton yang haus akan gemuruh kemenangan), sontak tertuju kepada petinju yang menang, dalam hal ini petinju A, karena saat itu bisa jadi, hampir tidak seorang penontonpun yang tertarik untuk mau sedikit merenungkan, bahwa bisa jadi dibalik wajah petinju B yang sedang dirundung kekecewaan, akibat kekalahan yang diterimanya, dia sedang bergumam:”kali ini aku mau menerima kekalahanku, dan akau akan berlatih lebih keras lagi, supaya dilain kesempatan aku bisa jadi seorang juara”

Adakah sesuatu yang sekarang bisa kita megahkan, dikemudian hari kelak, untuk kesekian kalinya, didepan mata kita sendiri, dijauhi, ditinggalkan untuk dilupakan, bahkan sama sekali tidak sedikitpun terbesit dalam benak kita, kita akan setia menantikan kebangkitannya kembali, atau tidak sama sekali?

Didunia ini tidak mungkin tidak ada kompetisi, dan adalah hal yang sangat wajar, jika sebuah kemenangan diganjar oleh pujian dan sanjungan, sebaliknya, kepada yang kalah diganjar oleh kritik dan teguran, bahkan ada yang sampai menerima hujatan, hanya karena apa yang diharapkan, tidak terwujud sebagaimana yang diimpikannya.

Bukankah adalah lebih bijak, jika kita mau sedikit tenang seraya merenungkan, sudahkah kita tanggap terhadap suatu “kemanfaatan?”, bahwa segala sesuatu yang tersaji didepan mata kita, sebenarnya adalah, disajikan kepada kita untuk satu tujuan yang mulia, apapun itu nikmatilah untuk kepentingan orang banyak, dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Einstein: Akibat Ketiadaan Kasih Tuhan

Albert Einstein

Albert Einstein

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti

Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?” “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah kedinginan?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.

Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai

panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan

ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV.

Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati

manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Sejak hari itu profesor itu tidak pernah menanyakan lagi tentang keberadaan Tuhan.

Dan nama mahasiswa yg berdebat itu adalah : Albert Einstein

Albert Einstein

Albert Einstein

By: Snopes

Keselamatan kita lebih Prioritas

Apakah keputusan seseorang untuk menikah atau tidak menikah, ikut mempengaruhi rancangan keselamatan dari Allah terhadap keselamatan orang tersebut dari malapetaka akibat dosa?, yang jelas siapapun yang disebut manusia, kehadiran manusia di muka bumi ini, tidak terlepas dari pertemuan dua individu yang berbeda jenis, yang disebut laki-laki dan perempuan.

Mengutip yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam Efesus 5:31-(32) ~ Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan Jemaat.

Ternyata bila dicermati dengan kesungguhan hati, atau katakanlah kita mau sedikit mengambil waktu untuk merenungkan dengan kesungguhan hati, betapa dalamnya kedaulatan rancangan keselamatan dari pihak Allah yang telah menberikan Ilham kepada Paulus (sekalipun dia sendiri, tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya), tentang bagaimana Paulus bisa mencapai kebenaran tersebut?,

Kesadaran Paulus untuk menyadari bahwa ternyata satu-satunya yang bisa dia megahkan, justru tersembunyi didalam (yang dia sebut), sebagai kekayaan Kristus, hal-hal yang sudah pasti kurang mendapatkan perhatian dari sudut pandang Dunia yang lebih mengedepankan yang tertampak secara kasat mata.

Sebuah pendalaman yang mengandung harapan atau asa, yang diharapkan oleh hampir sebagian besar manusia pada umumnya yang mendambakan kebahagiaan, sekalipun notabene, pernikahan dalam pengertian Paulus, adalah salah satu Pilar Keselamatan yang sangat strategis, minimal untuk bisa dijadikan sebuah ukuran, kepada siapa sesungguhnya pengabdian dan pertanggung-jawaban kita terhadap kehadiran kita di tengah-tengah seluruh Umat Manusia di muka bumi ini, sebagai orang-orang yang telah mendapatkan kemurahan dari Tuhan untuk menjadi Umat yang dibenarkan oleh Tuhan melalui kebenaran karna Iman, sebagai buah-buah rohani yang terpancar dari pendengaran kita akan Firman Kristus (Firman yang selalu dikuduskan).

Nikah sebagai sebuah Panggilan

Efesus 5:31, Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Matius 10:37, Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku ; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

Bahwa, Paulus-pun harus mengakui dalam konteks ihwal Nikah tersebut,  adalah setara dengan karunia sebagai bagian dari pemberian-pemberian yang datangnya dari Allah,  sarat dengan nuansa panggilan dan pilihan.

Simak saja kata Paulus didalam 1 Korintus 7:17, Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya, dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua Jemaat. 

Mari  kita cermati lebih dalam panggilan Allah melalui beberapa tulisan Rasul Paulus dengan merincinya menjadi 4 kategori panggilan:

1. laki-laki: 1 Korintus 7:1-2~ dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri, dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. 

Artinya, semata-mata yang jadi pertimbangan Paulus adalah, bahwa di bumi ini ada sebuah bahaya yang dia sebut sebagai bahaya percabulan, sebuah bahaya yang tidak pandang bulu, jenis kelamin, jabatan, usia, strata pendidikan, tentunya dengan catatan, bahwa jika Panggilan Tuhan atas seorang laki-laki sudah sedemikian kuatnya, dalam pandangan Paulus sebagai seorang Manusia yang telah beroleh kemurahan untuk menjadi seorang Rasul, ada baiknya laki-laki tidak kawin, ini-pun bukan perintah, tetapi sebuah perintah untuk dipertimbangkan (he he), bandingkan dengan 1 Korintus 7:28, Tetapi kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berdosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. 

2. gadis-gadis: 1 Korintus 7:25-26~ Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan!. Tetapi aku memberikan pendapatku, sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia (Paulus mendapat hikmat untuk dipertimbangkan oleh gadis-gadis), untuk tetap dalam keadaannya.

Adapun pendapat, pendirian melalui tulisan-tulisan diatas, sebenarnya merupakan pendapat pribadi, namun yang menjadi prioritas pemikiran seorang Paulus, semata-mata adalah, keselamatan baik laki-laki termasuk gadis-gadis, dari malapetaka akibat dosa, bahwa keselamatan manusia dari malapetaka dosa, tidak ditentukan oleh keputusan seseorang untuk menikah atau tidak, hanya saja, orang yang sudah benar-benar terpanggil untuk hidup didalam Kristus, tetap bisa dibedakan, jika mereka menikah, hubungan mereka dengan Kristus, akan banyak mengalami rintangan, tidak seperti jika mereka terpanggil untuk tidak menikah, dan memilih untuk mengabdikan dirinya secara total untuk kemuliaan Kristus.

3. suami-istri 1 Korintus 7:10-11~ kepada orang-orang yang telah kawin aku-tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan, supaya seorang Istri tidak boleh menceraikan Suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus hidup tetap hidup tanpa Suami atau berdamai dengan Suaminya. Dan seorang Suami tidak boleh menceraikan Istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa (masing-masing). Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.

Bahwa  Tuhan itu masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk beranak cucu semua orang sudah pasti tahu hal tersebut, tetapi ada satu nilai kebenaran yang tersembunyi, yang Paulus mau sampaikan kepada jemaat Kristen, khususnya yang sudah menikah, bahwa kesetiaan dan kekudusan didalam relasi Kristus dengan Jemaat-Nya, bisa menjadi sebuah dasar yang kokoh, bisa dijadikan sebuah jaminan, agar pasangan suami istri, tidak kehabisan harapan, dalam pengabdian-nya di bumi yang penuh dengan tipu muslihat iblis

4. janda-janda dan yang tidak kawin: 1 Korintus 7:8 ~ Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.

Sekali  lagi bahwa, didalam relasi Kristus dengan Jemaat-Nya, ada ditemukan satu-satunya alasan yang  jauh lebih terhormat dan abadi, bila dibandingkan dengan sekedar alasan-alasan, penting atau tidak pentingnya seseorang menikah untuk sekedar mendapatkan keturunan, sekalipun Tuhan telah berfirman:”berAnak Cuculah dan penuhilah bumi”

Salam damai Sejahtera.