Keteladanan Iman Nehemia

Kata mereka kepadaku:”Orang-orang yang masih tinggal didaerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar, dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar”

Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa kehadirat Allah Semesta Langit” ~Nehemia 1:3-4~

Kalau menyimak pekerjannya sehari-hari sebagai penyelia minuman raja Arthasasta, sepintas kita tidak melihat seorang Nehemia bisa mempunyai akses vital, untuk berperan besar dalam upayanya membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem yang sudah menjadi reruntuhan, dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar, belum lagi ternyata ada bebarapa Umat Israel yang berhasil terhindar dari penawanan, mereka ini adalah sekelompok orang yang telah memilih untuk tetap bertahan didalam situasi kesukaran yang teramat besar dan dalam keadaan yang sangat tercela.

Karena sebagai penyelia minuman Raja, Nehemia sehari-harinya sangat terikat sekali kepada keharusan mendisiplinkan diri terhadap aturan-aturan yang sangat ketat di lingkungan kerajaan. Bisa jadi, walaupun Nehemia seorang yang memiliki hubungan intim dengan Tuhan. dia hanya sanggup membuktikan imannya kepada Tuhan, hanya sebatas dilingkungan kerajaan, dengan cara memberikan pelayanan yang terbaik kepada raja Arthasastra. Itulah tugas rutin yang menjadi tanggung jawab sehari-hari seorang Nehemia, sekalipun dia bukan satu-satunya pelayan raja saat itu (Nehemia 2:1).

Sementara kehancuran Yerusalem dan penderitaan yang dialami saudara-saudaranya orang-orang Israel, telah menimbulkan kesedihan besar dalam batin dan jiwa Nehemia, merupakan realitas lain diluar Istana, yang dalam tulisan ini saya pilih sebagai dasar inspirasi bagi kita, tentang bagaimana “kebenaran karena Iman” telah bekerja dengan begitu giatnya dalam diri seorang Nehemia, sehingga menghasilkan buah-buah kehidupan yang bisa dirasakan manfaatnya, bukan saja bagi masyarakat luas, Israel dalam hal ini, tapi juga sanggup menembus serta meluluhkan serta menimbulkan kesadaran di lingkungan Istana & Raja beserta pemimpin2 perkotaan, menjadi sebuah keteladanan dan kesaksian.

Suatu keteladanan Iman yang terbukti sangat teruji, sanggup menjembatani ke-vakuman yang melanda sebagian besar Israel yang saat itu sedang mengalami tekanan berat, yang telah memunculkan rasa “trauma'” ditengah-tengah bangsa itu, sehubungan masa-masa pahit, setelah Kerajaan Utara Israel, ditaklukkan oleh Kerajaan Asyur, bahkan Kerajaan Selatan, Yehudapun jatuh ke tangan Kerajaan Babel.

Dibawah ini beberapa poin penting yang saya temukan, ketika kemurahan dari Tuhan kepada Nehemia, bukan berbentuk Iman yang mati (ketergantungan terhadap pemikiran Manusia), sebatas menimbulkan rasa nyaman yang semu, atau sederetan / sekumpulan pengetahuan ayat-ayat Firman Tuhan hasil tulisan tangan / kesaksian manusia, seperti yang sekarang ini bisa kita temukan dengan mudahnya ada tersebar di berbagai ragam media cetak, internet, dalam bentuk khotbah2, artikel, kesaksian. Tetapi sebuah pengalaman pribadi “mengalami” kebenaran secara konkret, yang dibangun dan dibentuk oleh tangan Tuhan sendiri, jauh dikedalaman hati Nehemia:

~Kemampuan mengImani, bahwa berita “Reruntuhan-Kehancuran Yerusalem & Penderitaan Sesama Umat” sebagai panggilan Tuhan (Nehemia 1:3).

~Kemampuan mengImani, bahwa  “Hati yang hancur ” adalah sebuah karunia untuk datang menghampiri Tuhan dengan segenap sikap hati, jiwa dan akal budi untuk berkabung dihadapan Tuhan (Nehemia 1:4).

~Kemampuan mengImani, bahwa  semua “Pengalaman dimasa lalu, sekarang & mendatang “, baik yang buruk juga yang baik adalah selalu seimbang dalam genggaman takaran Kasih KaruniaNya, dengan demikian mengalami kebesaran dan kedahsyatan Tuhan (Nehemia 1:5).

~Kemampuan mengImani, bahwa  semua “Pengalaman & Kehidupan Doa” adalah sebuah bentuk pengakuan dihadapan Tuhan, bahwa Tuhan Maha Pendengar doa-doa orang berdosa yang hancur hatinya (Nehemia 1:6-7).

~Kemampuan mengImani, bahwa  Firman Tuhan yang mengandung janji-janji, didalamnya selalu mengandung KeAdilan untuk terlaksana secara Adil (Nehemia 1:8-9)

~Kemampuan mengImani, bahwa  sedahsyat apapun mujizat dan kebaikan Tuhan yang telah memilih Israel sebagai bangsa pilihanNya, Nehemia tetap bersikap dan berperilaku sebagai Hamba Kebenaran (Nehemia 1:10).

~Kemampuan mengImani, bahwa “takut akan Tuhan” adalah bekal paling prioritas dalam menjalin relasi dengan para pemimpin-pemimpin,  keberhasilan apapun, tidak lebih prioritas dari mentalitas sebagai Hamba yang punya rasa “takut” kepada siapa hamba itu mengabdikan dirinya (Nehemia 1:11).

Renungan:

Tidak bisa dipungkiri kekuatan anugerah-Nya bagi kita, bahwa Dia telah menganugerahkan kepada kita karunia untuk “percaya”. Tapi sejujurnya, jika percaya itu tidak pernah membuahkan kedewasaan melalui timbulnya kesadaran terhadap pentingnya karunia “menderita” bagi Dia, sangat mustahil bagi beberapa orang, untuk bisa memiliki rasa, bahwa “percaya” kepada Tuhan adalah sebuah tantangan yang teramat berat, mustahil bagi bebarapa orang bisa memiliki “rasa” seperti yang pernah dimiliki oleh seorang Nahemia, apabila tanpa Belas Kasihan Tuhan. Filipi 1:29.

Iman Nehemia


About Suara Epiphania

Geraja Kristen Maranatha Indonesia - Epiphania

Posted on Mei 6, 2011, in Keteladanan Iman Nehemia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: