Keselamatan kita lebih Prioritas

Apakah keputusan seseorang untuk menikah atau tidak menikah, ikut mempengaruhi rancangan keselamatan dari Allah terhadap keselamatan orang tersebut dari malapetaka akibat dosa?, yang jelas siapapun yang disebut manusia, kehadiran manusia di muka bumi ini, tidak terlepas dari pertemuan dua individu yang berbeda jenis, yang disebut laki-laki dan perempuan.

Mengutip yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam Efesus 5:31-(32) ~ Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan Jemaat.

Ternyata bila dicermati dengan kesungguhan hati, atau katakanlah kita mau sedikit mengambil waktu untuk merenungkan dengan kesungguhan hati, betapa dalamnya kedaulatan rancangan keselamatan dari pihak Allah yang telah menberikan Ilham kepada Paulus (sekalipun dia sendiri, tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya), tentang bagaimana Paulus bisa mencapai kebenaran tersebut?,

Kesadaran Paulus untuk menyadari bahwa ternyata satu-satunya yang bisa dia megahkan, justru tersembunyi didalam (yang dia sebut), sebagai kekayaan Kristus, hal-hal yang sudah pasti kurang mendapatkan perhatian dari sudut pandang Dunia yang lebih mengedepankan yang tertampak secara kasat mata.

Sebuah pendalaman yang mengandung harapan atau asa, yang diharapkan oleh hampir sebagian besar manusia pada umumnya yang mendambakan kebahagiaan, sekalipun notabene, pernikahan dalam pengertian Paulus, adalah salah satu Pilar Keselamatan yang sangat strategis, minimal untuk bisa dijadikan sebuah ukuran, kepada siapa sesungguhnya pengabdian dan pertanggung-jawaban kita terhadap kehadiran kita di tengah-tengah seluruh Umat Manusia di muka bumi ini, sebagai orang-orang yang telah mendapatkan kemurahan dari Tuhan untuk menjadi Umat yang dibenarkan oleh Tuhan melalui kebenaran karna Iman, sebagai buah-buah rohani yang terpancar dari pendengaran kita akan Firman Kristus (Firman yang selalu dikuduskan).

Nikah sebagai sebuah Panggilan

Efesus 5:31, Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Matius 10:37, Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku ; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

Bahwa, Paulus-pun harus mengakui dalam konteks ihwal Nikah tersebut,  adalah setara dengan karunia sebagai bagian dari pemberian-pemberian yang datangnya dari Allah,  sarat dengan nuansa panggilan dan pilihan.

Simak saja kata Paulus didalam 1 Korintus 7:17, Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya, dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua Jemaat. 

Mari  kita cermati lebih dalam panggilan Allah melalui beberapa tulisan Rasul Paulus dengan merincinya menjadi 4 kategori panggilan:

1. laki-laki: 1 Korintus 7:1-2~ dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri, dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. 

Artinya, semata-mata yang jadi pertimbangan Paulus adalah, bahwa di bumi ini ada sebuah bahaya yang dia sebut sebagai bahaya percabulan, sebuah bahaya yang tidak pandang bulu, jenis kelamin, jabatan, usia, strata pendidikan, tentunya dengan catatan, bahwa jika Panggilan Tuhan atas seorang laki-laki sudah sedemikian kuatnya, dalam pandangan Paulus sebagai seorang Manusia yang telah beroleh kemurahan untuk menjadi seorang Rasul, ada baiknya laki-laki tidak kawin, ini-pun bukan perintah, tetapi sebuah perintah untuk dipertimbangkan (he he), bandingkan dengan 1 Korintus 7:28, Tetapi kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berdosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. 

2. gadis-gadis: 1 Korintus 7:25-26~ Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan!. Tetapi aku memberikan pendapatku, sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia (Paulus mendapat hikmat untuk dipertimbangkan oleh gadis-gadis), untuk tetap dalam keadaannya.

Adapun pendapat, pendirian melalui tulisan-tulisan diatas, sebenarnya merupakan pendapat pribadi, namun yang menjadi prioritas pemikiran seorang Paulus, semata-mata adalah, keselamatan baik laki-laki termasuk gadis-gadis, dari malapetaka akibat dosa, bahwa keselamatan manusia dari malapetaka dosa, tidak ditentukan oleh keputusan seseorang untuk menikah atau tidak, hanya saja, orang yang sudah benar-benar terpanggil untuk hidup didalam Kristus, tetap bisa dibedakan, jika mereka menikah, hubungan mereka dengan Kristus, akan banyak mengalami rintangan, tidak seperti jika mereka terpanggil untuk tidak menikah, dan memilih untuk mengabdikan dirinya secara total untuk kemuliaan Kristus.

3. suami-istri 1 Korintus 7:10-11~ kepada orang-orang yang telah kawin aku-tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan, supaya seorang Istri tidak boleh menceraikan Suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus hidup tetap hidup tanpa Suami atau berdamai dengan Suaminya. Dan seorang Suami tidak boleh menceraikan Istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa (masing-masing). Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.

Bahwa  Tuhan itu masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk beranak cucu semua orang sudah pasti tahu hal tersebut, tetapi ada satu nilai kebenaran yang tersembunyi, yang Paulus mau sampaikan kepada jemaat Kristen, khususnya yang sudah menikah, bahwa kesetiaan dan kekudusan didalam relasi Kristus dengan Jemaat-Nya, bisa menjadi sebuah dasar yang kokoh, bisa dijadikan sebuah jaminan, agar pasangan suami istri, tidak kehabisan harapan, dalam pengabdian-nya di bumi yang penuh dengan tipu muslihat iblis

4. janda-janda dan yang tidak kawin: 1 Korintus 7:8 ~ Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.

Sekali  lagi bahwa, didalam relasi Kristus dengan Jemaat-Nya, ada ditemukan satu-satunya alasan yang  jauh lebih terhormat dan abadi, bila dibandingkan dengan sekedar alasan-alasan, penting atau tidak pentingnya seseorang menikah untuk sekedar mendapatkan keturunan, sekalipun Tuhan telah berfirman:”berAnak Cuculah dan penuhilah bumi”

Salam damai Sejahtera.

About Suara Epiphania

Geraja Kristen Maranatha Indonesia - Epiphania

Posted on Mei 7, 2011, in Keselamatan kitalah yang Allah Prioritaskan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: