Pengabdian didalam Kesadaran Spiritualitas

Bumi ini sudah dipenuhi dengan Pendidikan dan Pengetahuan, sedemikian-lah kesulitan kita bahkan untuk menemukan individu, komunitas, generasi yang sungguh sungguh hidup didalam ‘kesadaran’.

Sama seperti ketika Elia putus asa. Jika Tuhan tidak berfirman kepada-nya, bahwa (ternyata), masih ada 7.000 orang yang tidak menyembah baal, dan mencium-nya. 1 Raja2 19:18. Karena ‘kesadaran’ adalah, mengetahui yang tidak kita ketahui, dengan demikian tidak ada 1 pun alasan bagi orang yang hidup didalam ‘kesadaran’ bermegah didalam apapun yang telah diketahuinya.

Dengan mengetahui apa yang tidak diketahui, maka ini sudah tinggal selangkah lagi untuk membebaskan diri dari penjara logikanya sendiri yang ternyata masih sempit. Sementara orang yang tidak sadar, biasanya mengira (secara sepihak), bahwa dia adalah orang pintar, sebab dia tidak (belum) mengetahui apa yang tidak diketahuinya, akibatnya orang tersebut lalu menjadi sombong karena tidak mengetahui apa yang tidak diketahuinya, dan mengira bahwa dia sudah mengetahui segala sesuatu.

antara Pendidikan Pengetahuan dan Kesadaran…

Seorang yang ber-Pendidikan  sudah pasti memiliki sejumlah pengetahuan didalam dirinya, uniknya ketika kita membahas masalah pendidikan, disana kita menemukan banyak sekali bias yang timbul, Tetapi pada dasarnya pengertian Pendidikan dapat kita tinjau dari kata pembentuknya. Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’. Karena mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Dalam pelaksanaannya yang namanya pendidikan bisa mencakup banyak bahasan berikut dengan keragaman fungsi, tujuan dan kedudukannya masing-masing.

Secara bahasa definisi pendidikan adalah, proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, yang dibagi menjadi 2 kelompok: Pendidikan Formal (wajib) dan Non Formal (tidak wajib), biasanya pendidikan non Formal sifatnya untuk melengkapi, agar pengetahuan yang telah diperoleh di Pendidikan Formal, bisa berkembang menjadi suatu keterampilan tertentu, dipertajam disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masing-masing (dalam bentuk kursus, pelatihan dan sebagainya), sekalipun direalitasnya definisi antara pendidikan formal dan non formal menjadi rancu, karena makin merebaknya lembaga pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan perkuliahan sebanyak dua sampai tiga kali seminggu dimana tanda kelulusan yang diberikan berupa degree pendidikan yang ber ijasah (formal).

Sementara dalam hal Pengetahuan,

sifatnya lebih elementer (mendasar) lagi, karena seorang yang tidak pernah mengecap dunia pendidikan sekalipun, baik Formal maupun Non Formal, didalam dirinya secara alamiah telah terbentuk benih-benih yang disebut “Pengetahuan” melalui pergaulannya sehari-hari. Dari kata dasar “tahu” yang diberi awalan “Pe(nge)” dan berakhiran “an”, hampir  sebagian besar, terbentuknya melalui sebuah pengalaman.

Di dunia perbankan, swasta khususnya, banyak lahir para Bankir-Bankir yang tangguh, dengan daya juang serta skill individu yang bisa melampaui para bankir dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, karena sebagian besar dari mereka biasanya (walau tidak semua), lebih teruji terbentuk dari pengalaman, karenanya biasanya mereka leading (unggul), serta dibutuhkan karena kemampuan dan kematangan dalam hal kepemimpinan (leadership).

Tidak demikian halnya dengan Kesadaran

Karena membahas hal yang satu ini, apalagi jika dihubungkan dengan dinamika kehidupan ke-Kekristenan, mau tidak mau semua bahasan, atau berupa klausul2, metodologi sampai kepada kiat-kiat peraihan berbentuk kata-kata motivasi (bijak), pencapaian alam kesadaran yang lebih mengedepankan kepada “cara”, akan segera runtuh seketika manakala secara terburu-buru (membabi buta) kita perhadapkan kepada Kebenaran Injil Kristus yang lebih mengedepankan “kuasa” Imanen atas dasar anugerah dan kasih karunia yang berbasis pada realitas adanya kedaulatan Allah atas segala sesuatu (Roma 11:32-33).

Tapi setidaknya izinkan saya lebih dulu menawarkan (menyuguhkan) sebuah “View” (pemandangan), yang nantinya bisa kita jadikan alat pengantar terhadap realitas konkret-nya, betapa mahal dan dalamnya letak kedudukan “kesadaran” tersebut, apalagi terkait dengan betapa agung dan sederhananya nilai-nilai spiritualitas yang Imanen yang telah kita terima dari Kristus.

=============================================================

Tindakan “Terburu-buru (secara gegabah) meletakkan nilai-nilai Subyektiv kedalam sebuah materi bahasan yang Obyektiv, bukan saja berbuah pendangkalan terhadap obyek bahasan, dampaknya juga bisa berakibat kepada, lunturnya nilai-nilai Subyektiv yang paling ideal menyangkut relasi dengan Tuhan dan sesama”.  Abel

=============================================================

Belajar dari kisah sulung dan bungsu (Lukas 15:11-32)

 Melalui perumpamaan tersebut, saya mengajak rekan-rekan pembaca untuk menyimak kisah Sulung dan Bungsu didalam kerangka pertanyaan, apa dan bagaimana sesungguhnya Kerajaan Surga, dan bukan untuk mencari, menemukan, menentukan, memutuskan siapa diantara kedua kakak beradik tersebut yang terbukti memiliki kesadaran?, karena secara moral kita sepakat, si Sulung tentu tampak lebih beretika melalui sikap penghormatannya terhadap bapanya yang masih hidup, menyangkut keberadaan dan haknya sebagai ahli waris, bila dibandingkan dengan sikap, dan perbuatan adiknya.

Dalam konteks pembahasan soal kesadaran, dan kaitannya dengan relasi antara Allah dan Manusia, Yesus tidak menempatkan Kebenaran hanya sebatas hasil perbuatan orang per orang, karena melalui perumpamaan tersebut, sesungguhnya Yesus sedang menyatakan sebuah kebenaran tentang kesadaran secara utuh, tentang bagaimana nilai-nilai Kerajaan Surga sedang Allah kerjakan didalam diri Yesus anak Tunggal-Nya.

Bahwa disana ada pesan tunggal tentang kekuatan relasi antara Bapa dan Anak yang teruji melalui sebuah pengalaman yang tidak bisa dipahami oleh si Sulung, bahkan oleh si Bungsu.

Karena siapa yang dapat memastikan, bahwa ternyata dihadapan Bapa mereka, ada 3 hal yang bisa kita petik sebagai sebuah hikmah atau perenungan:

(1) kembalinya si Bungsu adalah jauh lebih berharga daripada sekedar bersepakat dengan kegusaran anaknya yang Sulung?  (Lukas 15:28-29), kemudian siapa juga yang dapat memastikan,

(2) bahwa si Bungsu yang telah menghamburkan sejumlah kekayaan, pada akhirnya menyadari kesalahan dan dosa-dosanya?  (Lukas 15:17-19), bahkan

(3) siapa yang dapat menduga, kalau ternyata si Sulung tidak dapat membantah kebenaran sikap dan pendirian Bapa-nya?  (Lukas 15:31-32),

Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Kita-pun tahu bahwa Yesus sebagai Anak Allah tidak pernah kekurangan hikmat dalam membagikan beberapa perumpamaan, tetapi ada satu hal yang Yesus mau nyatakan kepada kita melalui perumpamaan tersebut, jauh melampaui sekedar mempercakapkan kemampuan-Nya dalam mengajar atau membagikan beberapa perumpamaan tersebut, bahwa DIA benar-benar menempatkan relasi-Nya dengan bapa-nya di Surga, dalam tingkat kesadaran yang amat tinggi, bahkan kalau boleh saya katakan “Levelitas tertinggi”, bahwa Kerajaan Surga sesungguhnya adalah sarat dengan kemurahan hati, dan bukan seberapa besar pengaruh atau akibat dari perbuatan Manusia terhadap kebenaran.

Silahkan disimak dengan kesungguhan hati, bukankah kesadaran Yesus terhadap kehendak bapa-Nya, ketika Dia berdoa di taman getsemani “tetapi kehendak-Mulah yang jadi”, bukan sekedar sebatas kesadaran terhadap sesuatu yang telah diketahui-Nya, bisa Dia terima dan alami? Sangat sederhana bukan?

Tapi tidak sesederhana yang kita bisa bayangkan, ketika kita membaca bagaimana putus asanya seorang Elia yang kita kenal dilengkapi oleh kekuasaan (hikmat) Tuhan dengan segala mujizat-mujizat (keajaiban) yang menyertainya, setelah dia menempuh perjalanan panjang pelayanan dan pengabdiannya yang sarat dengan tantangan (Maut), harus berakhir di satu titik pemahaman, ternyata telah banyak nabi2 (selain dirinya) yang telah dibunuh ,

Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.”  (1 Raja-Raja 19:14), bahwa seutuhnya, baik hidup dan dan pelayanan Elia sepanjang hidupnya, dalam hal “Kesadaran” bergantung total kepada 2 hal seperti yang disebutkan oleh Rasul Paulus didalam aya-ayat berikut ini:

1. Kedaulatan Allah melalui hikmat-Nya atas segala sesuatu (baca Roma 11:32-33) 

Tidak ada satupun manusia yang dapat menembus kekuasaan kedaulatan Hikmat Allah yang sedemikian (mengurung) luas dan dalam, hanya dengan sekedar katakanlah, bermodalkan “Kebenaran”, sehingga manusia dengan mudahnya bisa menimbulkan sebuah kesadaran didalam dirinya sendiri dalam hal ketaatan kepada Allah.

2. Kemurahan hati Allah kepada siapa Dia berkenan menyatakannya (baca Roma 9:15)

Tidak ada satupun manusia yang dapat memastikan eksistensi ketaatan-nya kepada Tuhan, sebuah bentuk prestasi Individu yang terbentuk dari perbuatan-perbuatan yang dianggapnya dan diyakininya adalah benar sekalipun.

 

Barangsiapa dengan kesungguhan hati beribadah kepada Tuhan, padanya bukan saja disediakan masa depan yang baik, malahan kepadanya Tuhan tambahkan, bahwa masa depannya bukan hanya dibangun dengan perjuangan dan air mata ke sia2an, karena atas semuanya itu, Tuhan sendiri-lah yang menjadi saksi, bahwa kepadanya Tuhan telah berkenan, sekarang dan untuk selamanya. Abel.

Salam Sejahtera.

About Suara Epiphania

Geraja Kristen Maranatha Indonesia - Epiphania

Posted on Juni 2, 2012, in Keteladanan Iman Nehemia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: