“sic deus dilexit mundum…..”

   Apakah Tuhan Menghukum?

Seorang Ibu yang mencubit buah hatinya atau seorang guru yang mendidik  salah seorang muridnya untuk berdiri di depan kelas boleh kita sebut “menghukum”. Namun hukuman ini adalah ungkapan cinta kasih, yang tujuannya adalah untuk mendidik, mendorong untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Srorang bos Mafia yang menghabisi seluruh keluarga dan tetangga disekitarnya karena kesalahan yang dibuat satu orang di lingkungan tersebut juga memberi hukuman. Hukuman ini tidak dapat kita sebut sebagai ungkapan cinta kasih, melainkan metode untuk melanggengkan kekuasaan melalui teror.

Teroris  yang meledakkan sebuah pencakar langit dan menghabisi ribuan nyawa orang tak berdosa karena “kesalahan” atau “dosa” yang diperbuat negara dimana pencakar langit itu berada juga memberi hukuman. Hukuman ini tidak dapat kita sebut sebagai ungkapan cinta kasih, melainkan ambisi untuk menegakkan ideologi melalui kekerasan.

Hukuman  yang merupakan ungkapan cinta kasih selalu ditujukan hanya  pada si pelaku dosa, dan bukannya ditujukan kepada orang-orang lain yang tak berdosa, seperti yang dilakukan para bos mafia atau teroris. Hukuman yang merupakan ungkapan cinta kasih selalu masih berada dalam batas kemampuan si penerima hukuman untuk menanggungnya, dan yang lebih penting lagi: hukuman itu membuka kesempatan kepada si pendosa untuk bertobat dan menjadi manusia yang lebih baik.

Bagaimana dengan bencana alam  yang mencabut nyawa lebih dari 150 000 orang,  sebagian besar tak berdosa, wanita tua, dan anak-anak?  Siapakah yang melakukan kesalahan dan dosa , dan siapakah yang menanggung hukumannya? Jika benar bahwa bencana alam itu adalah sebuah hukuman, maka apakah bedanya dengan bos mafia atau teroris yang membunuh orang-orang tak berdosa sebagai peringatan atau hukuman atas  “dosa”  yang dilakukan orang lain? Jauh di dalam hati kecil saya,  saya yakin bahwa Tuhan yang saya sembah tidak demikian. Tuhan yang saya sembah barangkali sekali-sekali akan menghukum atau menegor saya, seperti ibu yang mencubit buah hatinya atau guru yang mendidik  muridnya,  tetapi saya akan selalu diberi kesempatan untuk bertobat dan menjadi lebih baik.

Tuhan  yang saya sembah bukan bos mafia atau teroris yang menghabisi nyawa orang-orang tak berdosa, dan memberi penderitaan dahsyat, sebagai hukuman atau peringatan kepada para pendosa di tempat lain. Tuhan yang saya sembah bukanlah penguasa yang melanggengkan kekuasaanya melalui teror dan ketakutan. Tuhan yang saya sembah adalah Tuhan yang mencintai saya dengan cinta yang sedemikian besarnya.

Sembahlah  Tuhan, karena mencintai-Nya. Dan bukan karena teror atau rasa takut, seperti  yang  kebanyakan orang katakan.

“sic deus dilexit mundum…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: