Ibadah raya – Minggu ke-3, 21-08-2011

Pembicara:  Pdt. Roldy Lumingas, M.Div  dari: GKMI – Ebenhaezer – Pondok Gede, Jakarta

Tema:  Orang Kristen yang merdeka

Ayat Nats: Galatia 5:1Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Shalom,

Orang Kristen yang merdeka tidak akan menggunakan kemerdekaannya sekedar untuk pencapaian terhadap hal-hal yang tidak selaras dengan maksud dan tujuan kenapa kemerdekaan itu diberikan, apalagi ketika kita menyadari bahwa kemerdekaan yang telah kita terima memiliki nilai kekekalan, yaitu supaya kita terluput dari hukuman kekal akibat dosa.

Rasul Paulus juga melalui surat-suratnya sering mengingatkan jemaat yang dilayaninya, supaya mereka tidak merendahkan nilai-nilai kebenaran yang ada dibalik pengorbanan Kristus, yang telah berhasil membuahkan kemerdekaan dari dosa dipihak kita, berhubung tidak ada satupun kekuatan dan kekuasaan diluar nama-Nya, yang dapat melepaskan manusia dari perbudakan oleh dosa.

Saya menemukan ada 3 hal yang bisa kita garis bawahi, bagaimana situasi, suasana hidup orang yang sudah dimerdekakan dari perbudakan terhadap dosa:

1. Hidup dipimpin oleh Roh (Allah) sehingga tidak mengalami penghukuman, yang dimaksud dengan dipimpin oleh Roh, artinya kita tidak lagi menyerahkan (membiarkan) hidup kita, untuk hidup dibawah pengaruh, kekuasaan dan kendali keinginan daging (manusia) lagi, karena kita telah ditebus dari kekuasaan yang membinasakan itu melalui kematian dan kebangkitan Kristus, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus didalam Roma 8:1-2,  Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.

2. Selalu menjadi teladan, ada satu hal yang sangat penting ketika membahas soal keteladanan, yaitu keselarasan antara pengajaran dan keteladanan itu sendiri, pada gilirannya bisa berdampak kepada bagaimana seseorang berkata-kata dan bersikap didalam kesehariannya. Dari kitab Keluaran 18:19-20 kita bisa belajar tentang bagaimana sikap Yitro sebagai mertua Musa, telah diberi kemurahan oleh Allah untuk memberikan nasihat kepada Musa tentang bagaimana seharusnya Musa bersikap terhadap pekerjaan Allah yang begitu besar, di tengah-tengah umat Israel yang jumlahnya hampir mendekati 2 juta orang!. Maksud saya, kita tidak sedang membahas soal keteladanan yang hanya sebatas ideal untuk kepentingan-kepentingan sesaat, misalnya kefasihan dalam berkata-kata, atau sekedar untuk menjadi orang sukses dan pintar dengan seabrek prestasi akademis, tidak bukan itu. Sebab spirit keteladanan yang saya dapatkan dari percakapan antara Yito dan Musa, adalah bentuk kesehatian dan penaklukan diri dihadapan kepada siapa mereka beribadah, darimana semua ajaran mereka terima dalam bentuk hukum-hukum Tuhan. Sebagai seorang Hamba Allah yang dipercaya menerima hukum-hukum Allah, Musa menyadari keterbatasan dan kekurangannya, hal mana Allah mau tutupi dengan menggunakan pengalaman seorang Yitro, melalui nasihat-nasihatnya, sehingga kesehatian dalam bentuk kesadaran (kemerdekaan bersehati) diantara mereka berdua, telah berhasil mengokohkan kewibawaan Allah di tengah-tengah umat-Nya. Dengan demikian Israel sebagai sebuah bangsa yang besar, bisa semakin mengenal siapa dan bagaimana Allah yang mereka sembah.

3. Hidup didalam kekudusan, Ibrani 14:12 mengatakan, sebab tanpa kekudusan tidak seoranpun dapat melihat Tuhan. Memisahkan kemerdekaan dari kekudusan bisa berakibat runtuhnya kehormatan, sebab sebesar apapun kehormatan telah diraih, bisa sirna dalam sekejap oleh satu tindakan kecil yang tidak senonoh, apalagi di tengah-tengah Sidang Jemaat Allah. Dari Yesaya 6:1-4 kita bisa belajar, bahwa kekudusan bukan sebatas simbol, atau ritual yang dibangun sebatas oleh orang yang berIman sekalipun, melainkan sebuah sikap batiniah dihadapan Allah yang maha Kudus, darimana semua kehormatan yang pernah ada dan akan ada di bumi ini berasal. Bahkan ketika Musa sedang berhadapan dengan Allah, Allah sendiri berkata, bahkan sampai ke tanah yang Musa pijak-pun, menjadi kudus karena kehadiran Allah walau hanya sebatas untuk kepentingan berbicara dengan Musa sebagai hamba-Nya,  Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

Dan ketika kekudusan diakui sebagai anugerah dari Tuhan yang memancar keluar dari dalam hati, maka kekudusan bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, menekan, hanya sebatas sebagai simbol yang dilegalitaskan berdasarkan perbuatan orang perorang, melainkan kemerdekaan dalam bersikap, menyambut, melaksanakan keselamatan yang telah kita terima dari Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: