Tuhan tidak menelantarkan mereka

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Matius 9:36

 

Puji Tuhan!, telah dibuka dalam tahap perintisan di Wamena, tepatnya di Tiru – Papua, dibawah Koordinator Bapak  Tiben Tabuni, Persekutuan Doa “Epiphania”, dibawah naungan langsung Gereja Kristen Maranatha Indonesia – Jemaat Epiphania.

 

Gambar kiri, waktu sebagian sembako dikumpulkan untuk dibagikan kepada warga Tiru yang membutuhkan. Yesus mengatakan didalam Markus 14:16,  “..kamu harus memberi mereka makan!….”, Kalaupun dibenak murid-murid Yesus, perintah tersebut sempat mereka maknai hanya sebatas nilai mata uang sebesar 200 dinar, sesuai dengan kalkulasi sementara mereka saat itu, berdasarkan jumlah orang-orang yang mereka lihat, sedang mencari dan mengikuti Yesus saat itu (5000 ribu laki-laki), tapi dibenak Yesus ternyata sangat jauh berbeda dengan yang sedang mereka pikirkan, kata-Nya  kepada murid-murid-Nya, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!”

 

Jadi jelas ini murni masalah kebutuhan perut, dan bukan sekedar menciptakan kesempatan untuk menggalang dan mengumpulkan sejumlah dana (uang), apalagi untuk tujuan yang tidak selaras dengan Misi Kristus untuk keselamatan jemaat-Nya dalam hal ini terkait dengan kebutuhan hadirnya penggembalaan atas jiwa-jiwa. Artinya, dalam tugas-tugas misi dan perintisan, cikal bakal terbentuknya sidang jemaat, tidak bisa tidak pendekatan melalui pelayanan sosial menjadi ujung tombak masuknya berita Injil, apalagi di daerah terpencil seperti Tiru di WamenaPapua ini. Sekalipun di era sekarang untuk mewujudkan pelayanan tersebut, karena pertimbangan faktor jarak tempuh, baik jenis pangan sampai jumlah pangan, adakalanya membutuhkan dukungan dalam bentuk  sejumlah uang, tapi tetap pada dasarnya lebih difokuskan kepada efektivitas terbentuknya jemaat Kristus, berdasarkan kemampuan yang ada pada kita.

 

Ada banyak faktor bisa dijadikan pertimbangan, sekalipun mereka pada dasarnya sudah terbiasa hidup didalam kondisi tersebut, seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita yang ada di Wamena, tapi tetap dalam konteks misi, supaya Injil Kristus bisa diberitakan, masuk berbaur beradaptasi dengan mereka, melalui sikap dan kepedulian kita terhadap kondisi keseharian mereka, adalah hal lain yang bisa menimbulkan kesadaran dipihak mereka atas kebutuhan terhadap pentingnya sebuah perhatian yang tulus. Yang jelas kehadiran kita tidak dengan tangan kosong, karena pemberian-pemberian tersebut adakalanya juga bisa berwujud pendidikan misalnya, dengan sedikit memberikan pengaruh berupa bimbingan, petunjuk-petunjuk dan arahan-arahan seputar masalah kebersihan masak memasak misalnya, seperti gambar disamping kanan, sedang memasak nasi.

 


Pemuda remaja dan anak-anak di Tiru Wamena, sedang menyanyi memuji Tuhan di tempat (ruangan) sementara, lokasi dimana kelak GKMI-Jemaat Epiphania ditahbiskan. Supaya mereka bisa beribadah dan tergembala, jadi bukan hanya sebatas menyangkut masalah kesejahteraan dan perbaikan taraf  hidup untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, lebih dari itu ialah supaya mereka juga bisa menikmati sajian-sajian rohani untuk kebutuhan dan pertumbuhan iman mereka, yang pada gilirannya bisa menempa mereka untuk menjadi manusia seutuhnya, tidak sebatas memikirkan sandang pangan untuk kebutuhan hidup sesaat. Melainkan kesadaran tentang adanya ancaman malapetaka akibat dosa. Terutama untuk generasi mudanya, dimulai dari anak-anak dan remaja.

 


Gambar kanan, sedang berkumpul di depan tempat ibadah, tempat (bangunan) dimana GKMI-Jemaat Epiphania sedang dipersiapkan untuk menjadi Jemaat Kristus. Sungguh sangat berharga jiwa manusia, karena kepada mereka-lah citra Allah dinyatakan, supaya mereka menjadi umat kepunyaan Allah yang selalu beribadah kepada-Nya.

 

Gambar kiri, buat yang rajin beribadah dan selama setahun selalu aktif terlibat dalam kegiatan puji-pujian, disediakan hadiah dan penghargaan. Mungkin cara-cara seperti ini tidak lagi dibutuhkan di kota-kota besar, tapi sebagai sebuah misi, kebijakan dan strategi pendewasaan spiritual terasa agak berat kalau tidak disertai sentuhan-sentuhan motivasi berupa perhatian dan kepedulian kepada mereka.

Salam Sejahtera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: