Hukum Akal Budi vs Hukum Dosa

strongHukum Akal Budi
Hukum Dosa

Hukum Dosa

Sebagai umat yang telah dibenarkan karena Iman sudah sepantasnya kita memiliki pemahaman dan pengertian yang utuh dan benar terhadap karya keselamatan yang begitu besar yang telah Allah anugerahkan kepada kita melalui pengorbanan Kristus. Karena melalui Dia (Kristus) kita bukan saja percaya, bahkan lebih dari itu kita juga dipanggil didalam Iman itu sendiri, untuk mengisi dan mengokohkan percaya kita kepada-Nya menjadi sempurna didalam genggaman tangan kekuasaan-Nya, dihadapan hukum-hukum-Nya ~ Galatia 5:22-23~

Terlepas dari setuju atau tidak terhadap pengertian bahwa Allah adalah kasih, sebagai umat Kristen tetap tidak bisa mengurangi apalagi meniadakan kebenaran seutuhnya, bahwa melalui kehadiran Kristus kedunia ini, pengertian dan pemahaman kita terhadap kasih-Nya kelak akan menjadi semakin diperjelas, betapa tidak? Mari kita simak bersama-sama bagaimana Kristus menyatakan kasih Allah yang begitu sempurna, baik melalui sikap hidup-Nya, terlebih melalui seluruh tindakan-Nya yang tercermin melalui seluruh ajaran-Nya. Bahwa Dia sebagai Firman Allah yang telah menjadi Manusia (Yohanes 1:1-14), adalah Allah yang terbukti berkehendak, agar semua Firman yang pernah Dia sampaikan melalui peranan, baik para nabi-nabi di era Perjanjian Lama, maupun hamba-Nya di masa perjanjian baru, bisa terlaksana secara utuh dan sempurna, sampai kelak tidak satupun kebenaran-Nya bisa terbantahkan.

Allah yang berdaulat atas segala sesuatu:

Kalau kita menyimak Kitab Kejadian 1:1 dan Injil Yohanes 1:1, didalam kedua ayat tersebut kita menemukan adanya keselarasan kosa kata Pada mulanya sehubungan dengan keberadaan Allah serta Alam Semesta (Langit dan Bumi) berikut dengan isinya, terutama bila dikaitkan dengan keseluruhan bahasan tentang kebenaran karena Iman. Artinya, bahwasanya dipihak kita, kalau Tuhan tidak pernah memberikan Ilham kepada hamba-hamba-Nya terdahulu, kita tidak akan pernah memiliki dasar dan bukti untuk percaya, jangankan menyangkut keberadaan Allah yang tidak kelihatan, untuk bisa percaya dan mengerti bahwa langit dan bumi berserta seluruh isinya, (disebut) sebagai Pada Mulanya diciptakan oleh Allah, kalau mau jujur diluar Iman, kita tidak memiliki dasar dan bukti untuk menerimanya sebagai sebuah kebenaran yang bisa diterima untuk dipercaya (Ibrani 11:1-3).

Belum lagi ketika bahasan mulai masuk kedalam wilayah kebenaran seputar penciptaan Manusia, berikut dengan kisah kejatuhannya kedalam dosa, dibutuhkan ekstra Iman yang benar-benar teruji dan terlaksana kebenarannya didalam diri kita, sehubungan dengan sifat dasar manusia yang selalu cenderung menolak disebut sebagai mahluk hidup keturunan manusia pendosa, hampir sebagian besar umat yang menyebut dirinya sebagai umat Tuhan, lebih berminat untuk menempatkan untuk melihat kebenaran secara sepihak, bila dibandingkan dengan bagaimana sepatutnya kebenaran itu diterima secara utuh, bahwa akibat dosa tidak ada satupun manusia yang benar jika Allah tidak menyatakan kebenaran-Nya (Roma 3:10-18).

Ada baiknya kita kesampingkan dulu upaya dan perbuatan manusia, baik di tingkat percaya sampai ke fase pelaksanaan suatu kebenaran, dari mulai bagian yang paling kecil yang rentan kita anggap remeh sekalipun, Karena jika kita benar-benar percaya yang tertulis didalam Yesaya 55:11, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku. ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang kusuruhkan kepada-Nya. dan Roma 3:23 “semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”

Niscaya kita tidak meragukan kedaulatan Allah atas segala yang telah Dia firmankan, bahwa kehadiran Kristus di bumi, adalah sebagai perwujudan kehendak Allah, tidak bisa tidak, harus kita imani karena memang sudah terlaksana hanya oleh Dia.  Bahwa Allah pribadi melalui Anak-Nya yang tunggal (firman yang telah menjadi manusia), tidak saja menjadi pelaksana dari seluruh kehendak Allah yang selalu dipanggil-Nya sebagai Bapa-Ku, malahan Dia juga ikut terlibat kedalam keadaan sebagai Anak Manusia yang telah didosakan. Simak saja jeritan-Nya di atas kayu salib:”Bapa Bapa, kenapa Engkau meninggalkan Aku?”, benar-benar terbukti telah terlaksana kebenaran-Nya bukan?, artinya, pelaksanaan seluruh kehendak Allah melalui Kristus, bukan hanya sebatas pelaksanaan tanpa dasar pengorbanan (bayar harga), melainkan benar-benar teruji secara utuh, Dia tampil sebagai penanggung jawab tunggal yang sempurna terhadap keseluruhan kebenaran yang tertulis, bahkan kebenaran apapun yang sudah tersurat didalam Kitab Suci.

Menjadi semakin jelas bagi kita manakala kita membaca, bagaimana Rasul Paulus tidak secara serta merta menempatkan Kristus pada suatu standar kebenaran yang  tertinggi dan tak terbantahkan, tanpa suatu dasar dan alasan yang kuat, terkait dengan kedaulatan Allah atas segala sesuatu, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”! (Roma 11:36) ; “Syukur kepada Allah oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa”  (Roma 7:25). Rasul Paulus sangat menyadari, bahwa dengan Akal Budinya dia hanya sebatas bisa memahami serta mengakui, betapa mulianya tujuan paling akhir dari Hukum Taurat, dan hanya dengan bermodalkan kekuatan Akal Budinya saja, dia merasa tidak berdaya dalam menghadapi realitas hukum yang jauh lebih kuat dari hukum akal budinya, yakni hukum dosa yang dilayani oleh tubuhnya. Pengertian ini baru dipahami oleh Paulus setelah Dia mengenal Kristus, bahwa dosa tidak cukup dihadapi hanya sebatas mengandalkan kekuatan akal budinya terhadap apa yang dianggapnya baik ataupun jahat, sekalipun dengan akal budinya dia bisa memahami bagaimana Tuhan bersikap terhadap setiap perbuatan dosa yang dilakukan oleh Manusia (Roma 7:23).

Keterkaitannya dengan Hukum Akal Budi vs Hukum Dosa:

Beberapa waktu yang lalu bahasan ini pernah saya sampaikan dalam bentuk khotbah di sebuah kelompok (persekutuan) doa, seusai ibadah ada seorang bapak mendekati saya, mengajukan sebuah pertanyaan, yang mungkin juga ada dibenak pembaca saat ini, apakah itu berarti Allah menghendaki (merancang) kejatuahan manusia kedalam dosa?  Saya katakan jelas tidak!,  bukankah didalam diri-Nya tidak ada rancangan dosa dalam bentuk apapun, apalagi menyangkut keberadaan Manusia sebagai ciptaan-Nya yang pernah diciptakan segambar dan serupa dengan Dia (Kejadian 1:26). Lagipula tidak mungkin untuk sebuah alasan kebenaran sekalipun, Dia harus merubah rancangan dan tujuan-Nya. Apakah bisa dikatakan, secara sengaja Dia telah menghendaki Manusia jatuh kedalam dosa?, supaya Dia bisa menyelamatkan mereka dari Dia yang juga menghendaki kejatuhan Manusia kedalam dosa?, sekali lagi saya pastikan tidaklah demikian.

Atau katakanlah sebagai dampak dari pandangan imanen kita kepada Kristus, di era kini kejatuhan manusia sudah bisa kita terima juga sebagai sebuah realitas konkret yang bisa kita temukan terjadi di tengah-tengah realitas dan lingkungan keseharian kita, untuk itupun seyogianyalah kejatuhan manusia kedalam dosa, tidak harus kita artikan sebagai bagian dari kehendak (kebenaran) Tuhan, apalagi kalau kita baca didalam Kitab Kejadian 2;17, bahwa Allah sebenrnya pernah melarang Manusia Adam  memakan buah dari Pohon Pengetahuan baik dan Jahat, jadi bisa dikatakan bahwa Allah sebenrnya tidak pernah menghendaki kejatuhan manusia kedalam dosa!, lalu kenapa manusia jatuh kedalam dosa?, dan kenapa Allah membiarkan hal itu menimpa dan terjadi pada manusia?, kiranya melalui jawaban (dibawah ini) atas kedua pertanyaan tersebut, bisa menjadi pengantar bagi para pembaca untuk lebih sungguh-sungguh berjuang didalam perjuangan iman yang semakin dimurnikan, dalam tanggung jawab mengisi Iman kita didalam pengharapan kepada Kristus, dengan pengertian-pengertian yang benar, sebagaimana yang tertulis didalam Alkitab.

Hampir semua orang Kristen minimal sudah hampir sepakat untuk selaras, mendekati tingkat kesadaran yang benar tentang semua manusia telah berdosa, sekalipun faktanya, kesadaran tersebut sebagian besar masih rentan terhadap goncangan dan badai adanya realitas pencobaan-pencobaan yang begitu multikompleks dalam realitas hidup sehari-hari, karena sebagian besar masih bersandar dan bertumpu pada huruf-huruf mati semata yang tertulis didalam Kitab Suci (Alkitab, Roma 3:23 ; Galatia 3:22). Sementara pengertian-pengertian hakiki dari Roma 3:23, apalagi kalau diukur berdasarkan realitas yang sesungguhnya, yang pernah dialami dan dirasakan oleh Yesus bahkan para tokoh-tokoh iman di masa-masa Perjanjian lama dan Perjanjian baru, seharusnya sekarang membuat kita lebih bersungguh-sungguh hati, untuk lebih terpanggil, mengamati dengan kesungguhan hati melalui Iman kita, kebesaran Allah didalam hikmat-Nya, seperti yang pernah dirasakan dan dialami oleh Rasul Paulus didalam Roma 11:33, O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!, Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”, simak juga kira-kira apa dan bagaimana yang telah berkecamuk didalam perasaan dan pikiran Yesus ketika dalam keadaanNya sebagai Manusia saat Dia berdoa di taman Getsemani?, saat Dia memohon dengan penuh keluh kesah kepada Bapa-Nya, ..kalau boleh lalukan cawan itu daripada-Ku, tapi bukan kehendak-Ku yang jadi, kehendak-Mu jadilah”.

Bahwa kedaulatan Allah atas segala sesuatu bisa kita lihat telah terwakili, tidak hanya sebatas pengakuan tanpa rasa dari hamba-Nya Rasul Paulus, bahkan Yesus sebagai Putra Tunggal-Nya telah lebih dulu merasakan, kokohnya kedaulatan kehendak Bapa-Nya di surga bagi keselamatan kita. Tentu ada dasar atau alasan yang teramat kuat bagi seorang Rasul sekaliber Paulus, sampai dia terilhami untuk memproklamirkan Roma 11:33 tersebut. Di ayat sebelumnya (Roma 11:32), dia mengatakan, “Sebab Allah (telah) mengurung semua orang dalam ketidaktatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua”.

Sebagai seorang yang sarat dengan penderitaan (satu2nya rasul yang paling banyak menderita seumur hidupnya), dia menyadari bahwa sejak awal perjumpaannya dengan Kristus di depan pintu gerbang Damsyik, hidupnya bukan saja berubah, tapi keobahan itu benar-benar dirasakannya tidak terjadi secara statis dan instan, tapi sebuah progress yang multidinamis, disertai dengan ganjaran-ganjaran pendidikan spiritualitas, dalam bentuk pendewasaan yang benar-benar terpimpin oleh kehendak Allah melalui Roh Kudus, Sebagai buah dari pengenalannya akan rahasia Kristus yang semakin semakin bertumbuh, didalam tubuhnya dia mendapati 2 hal yang teramat kuat selalu seiringan bekerja dan saling berseteru, Akal Budi-nya dengan sifat-sifat dan kecenderungan (dorongan akali) untuk selalu sepakat berbuat yang terbaik, dan (apalagi) Dosa dalam bentuk keinginan daging yang tersebar diseluruh saraf dan darahnya, yang dalam surat Yakobus 3:6, oleh Yakobus diberi identitas sebagai sepadan keganasannya dengan api neraka, yang oleh Rasul Paulus disebut sebagai tubuh Maut atau Manusia alamiah (manusia Adam yang pertama, baca sebagai perbandingan: Roma 7:24 ; Roma 7:25 ; 2 Korintus 4:11), adalah sebuah ketentuan terhadap rancangan keselamatan di pihak Allah bagi semua Umat manusia, dalam bentuk (merupakan sekumpulan) hukum-hukum sebagai akibat kebesaran Hikmat Allah yang tak terselidiki, jika tanpa pengalaman hidup dalam Kristus.

Realitas adanya saling perseteruan seumur hidup yang terjadi diantara hukum Akal Budi dengan hukum Dosa didalam tubuh alamiah Paulus yang ada didalam tubuh seluruh umat manusia, sebagai warisan Adam yang pertama inilah yang menjadi dasar, kenapa dia berkata didalam Roma 7:19, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”. Dengan ketulusannya dia mengakui, betapa kokohnya kedaulatan Hikmat Allah atas kefanaan Manusia, ternyata untuk membuka alasan-alasan dipihak Allah, kepada siapa Allah berkenan bermurah hati, kepada siapa Dia berkenan menjatuhkan pilihan-Nya melalui keteladanan Kristus, semata agar kehendak-Nya dapat terlaksana secara utuh, kearah yang lebih sempurna di masa-masa yang akan datang.

Hal yang sama seperti yang telah saya uraikan diatas, seputar doa Yesus di taman Getsemani. Adalah hal yang sangat mustahil sekali untuk diterima sebagai sebuah kebenaran, apabila kita mengenyampingkan begitu saja, apalagi meniadakan faktor-faktor, apakah itu pengertian, sampai kepada kesadaran dan rasa, yang pernah Yesus alami dan rasakan, ketika sebagai individu yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa, mau menghormati dan mengakui kedaulatan Allah atas sesama-Nya manusia (kita), ketika kepada-Nya, bapa-Nya yang di surga berkehendak menimpakan semua akibat ketidaktaatan (ketidaksanggupan Akal budi kita menaklukkan dosa kita) kepundak Anak-Nya yang sangat Dia kasihi. Sanggupkah kita tanpa Dia, ketika kita sadari sedemikian besarnya rancangan keselamatan dari Allah untuk kita? ~Salam Damai Sejahtera~


  1. Sungguh besar pengajaran yang di sampaikan rasul Paulus bagi kita umat Tuhan di achir jaman untuk benar2 berada dalam pemahaman kebenaran yang sejati seperti yg Yesus ajarkan sehingga dalam kitab Galatia 1:6-9.11-12.dengan tegasnya beliau mengatakan terkutuklah dia yang memberitakan injil yg lain,sekalipun malaikat terkutuklah dia.sebab itu janganlah kita terpukau pada kesukaan manusia,sebab itu kita sekalian orang percaya terimalah Injil oleh pernyataan Yesus Kristus sebagai Injil kebenaran yang sejati.Berbahagialah mereka yang menekuninya mengenali marifat Anak Allah kita.Hanya satu Injil dan Satu pengajaran murni yang kita terima sampai Hari Maranatha Tuhan Yesus Kristus datang kembali ke 2X
    nya.Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: