Imamat Lewi (PL) dan Imamat Melkisedek (PB)

Imam Besar

Karena itu andaikata oleh Imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan, sebab karena Imamat itu umat Israel telah menerima Taurat – apakah sebabnya masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi Imam Besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang Dia (dari suku Yehuda), tidak dikatakan menurut peraturan Harun? (dari suku Lewi) ~ Ibrani 7:11.

Mungkin sebagaian besar kita pada umumnya lebih mengenal dan memahami berita tentang Injil Keselamatan dengan tokoh tunggalnya Yesus Kristus, yang sekarang sudah menjadi Tuhan dan Juruselamat bagi kita orang-orang yang percaya kepadaNya. Sebuah karya keselamatan bagi dunia dari pihak Allah, dalam bentuk Kasih Karunia, dimana Allah sendiri melalui RohNya (baca:FirmanNya) telah hadir ketengah-tengah umat pilihanNya (Israel) dalam wujud seorang Anak Manusia (Yoh 1:14), ketika Allah pribadi menyatakan kekuasaan yang sungguh besar dalam hal membuka jalan keselamatan bagi seluruh umat manusia yang mau percaya kepada Yesus Kristus (Putra Tunggal-Nya), sebagai perwujudan belas kasihanNya, seperti yang tertulis didalam Roma 3:23 ; Roma 6:23 ; Yohanes 3:16 dan Roma 10:9.

Ibarat sebuah bangunan supaya tahan terhadap goncangan, bangunan tersebut harus dibangun diatas dasar yang kuat (batu-batuan), demikianlah halnya dengan rancangan Keselamatan dari Allah untuk umat-Nya, bukan tanpa kebijakan, karenanya rancangan keselamatan itu, tidak dibangun-Nya diatas pasir yang mudah terburai, terserak membuat suatu bangunan kehilangan tempat berpijaknya. Sekuat apapun suatu bangunan, jika bangunan tersebut kehilangan pijakannya, cepat atau lambat bangunan tersebut akhirnya runtuh, seperti yang pernah Yesus katakan didalam Matius 7:24,  Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya diatas batu.

Ada banyak bisa kita jumpai didalam Alkitab, para penulisnya sering memakai benda-benda alam untuk menggambarkan keteguhan, kepastian dan kokohnya rancangan keselamatan dan karya kekuasaan-Nya. Hanya untuk menunjukkan kepada kita bahwa keseriusan Tuhan bukan saja ketika Dia berFirman, bahkan untuk setiap detail firman-Nya ketika Dia genapkan, benar-benar teruji ketepatan-Nya. Salah satunya seperti yang tertulis didalam Yesaya 50:7  Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak mendapat malu.


IMAMAT -NYA (pelayanan-Nya) TETAP  SELAMA  LAMANYA (Ibrani 7:24)

Walaupun dipisahkan oleh waktu yang berbeda-beda, sebutan tentang Imamat, pertama kali Allah wartakan (nyatakan) kepada Abraham, sebagai sebuah Jabatan yang sifatnya kekal, ketika Abraham melalui imannya kepada Tuhan, mengambil keputusan untuk datang menyongsong Imam Besar Melkisedek  (Kejadian 14:18). Sampai periode Musa (kira-kira 500 tahun kemudian), menetapkan jabatan Imamat kepada Suku Lewi yang juga adalah keturunan Abraham dari Yakub.  Sama-sama sebagai sebuah model pelayanan yang datang dari surga, sebuah jabatan kekal yang kelak Allah sandangkan kepada Putra Tunggal-Nya Yesus Kristus, yang pernah di-imani oleh Abraham, melalui tindakan sepersepuluhannya kepada Imam Besar Melkisedek. Abraham percaya, bahwa melalui keturunannya juga, Yehuda anak Yakub, anak Ishak yang juga adalah anak Abraham sendiri, Yesus dilahirkan sebagai Putra Allah di bumi.

Tentang hal itu Ibrani 7:14 menyatakan, Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita (sebagai manusia) berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam.

Artinya, jika kita percaya bahwa Yesus adalah Firman Allah yang telah menjadi manusia (Yoh 1:1 ; Yoh 1:14), seharusnyalah kita juga percaya, bahwa tugas dan tanggung  jawab yang sudah Allah percayakan kepada Yesus Kristus dalam misi penyelamatan Umat-Nya, merupakan sebuah rangkaian yang utuh, tidak instan, dan bukan sesuatu yang terpisah dari kesaksian2 para tokoh Iman yang ada di era Perjanjian Lama, karena disana ada begitu banyak pengorbanan, perjuangan, ujian-ujian, pendisiplinan menyangkut sikap hidup sebagaimana  selayaknya orang-orang yang dikuduskan bagi Tuhan untuk beribadah kepada Tuhan, melibatkan sejumlah besar para tokoh Iman jauh sebelum kehadiran-Nya di bumi 2000 tahun yang lalu.

Sekalipun atas kehendak-Nya juga, Dia (Yesus) sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek, tidak mendapatkan bagian untuk dicantumkaan kedalam aturan-aturan Imamat Lewi (taurat) yang sifatnya sementara, tapi setidaknya kita bisa belajar banyak tentang satu hal yang sangat penting menyangkut spirit-Nya yang kuat, kesetiaan, ketelitian, kerendahan hati, penaklukan diri-Nya sewaktu Ia menjadi manusia, bisa menjadi suatu pertanda bagi kita, bahwa Allah tidak semata-mata secara instan memprioritaskan pelayanan-pelayanan yang sifatnya kekal, sebab dari Perjanjian Lama kita bisa belajar juga, bahwa Dia,  melalui hamba-hamba-Nya (di masa Abraham dan Musa), adalah Allah yang selalu (mau) peduli untuk ikut terlibat, membangun sebuah kesadaran, pentingnya keteraturan, kepastian terhadap nilai-nilai yang lebih sempurna, yang akan Kristus kerjakan di akhir zaman ini.

Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi pengantara mereka. Ibrani 7:25

KESELAMATAN  KITA ADALAH  SUATU  IMAMAT  YANG KUDUS  (1 Pet 2:5)

Tidak ada satupun Manusia yang benar di mata Tuhan diluar kemurahan hati-Nya (Rom 3:10 ; Rom 11:32), apalagi ketika kebenaran tersebut dihubungkan dengan kekudusan yang sangat erat sekali dengan tujuan kekal dibalik pengorbanan-Nya yang sempurna ituKe-Kristenan memang tidak sebatas sebuah kelembagaan untuk melegalistik-kan upaya-upaya sekelompok orang untuk hidup didalam kekudusan, apalagi demi kepentingan peraihan sesaat, yang oleh waktu jua pada akhirnya akan berbenturan dengan kedaulatan Tuhan didalam ke Maha Kudusan-Nya. Dan hal tersebut sudah pernah  Tuhan buktikan, ketika sebagaian besar Israel tumbang karena pemberontakan mereka, terhadap aturan-aturan yang ditegakkan melalui Imamat Lewi. Kalaupun dari Musa, Kristen bisa memetik banyak keteladanan Iman, bahwa didalam diri-nya ada sejumlah kesaksian, itulah wujud kemurahan hati Tuhan, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan jenis  pelanggarannya, yang telah diganjar oleh Tuhan secara setimpal, ketika dia hanya diizinkan Tuhan untuk memandang dari kejauhan, negeri Perjanjian yang Allah janjikan kepada Abraham-Ishak dan Yakub. Supaya dari kejadian tersebut kita semua bisa belajar, sekudus apapun hasil pengudusan Tuhan atas diri kita, keberadaan dari spirit  Imamat Yang Kudus, mau tidak mau harus kita akui, tetap berada didalam genggaman tangan Tuhan yang kuat.

Inilah Keselamatan kita:

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. 1 Petrus 2:9-10,

Salam Damai Sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: