Ketika melayani Tuhan tanpa melayani Hukum Tuhan

Biasanya mereka banyak mengalami kesulitan dalam memahami kebenaran, sesuatu yang sudah terlanjur mereka lestarikan dan mereka imani sebagai kebenaran mutlak  sampai berpuluh-puluh tahun lamanya, ketika mereka pastikan tidak mungkin bisa dirubah lagi oleh siapapun, tiba-tiba saja  berubah dan menjadi berbeda sama sekali di realitasnya.

Entah sekedar istilah, atau mungkin sudah jadi pengalaman yang mendarah daging, melayani Tuhan sudah menjadi semacam trend yang bersinar terang benderang di tengah-tengah umat yang mengaku beribadah kepada Tuhan.

Sedemikian kokohnya trend tersebut, tanpa disadari sudah menjadi budaya yang telah kehilangan spirit-Nya, ketika hal itu dijadikan sebuah nilai atau standar kebenaran, untuk saling memberikan ukuran, baik untuk menghakimi maupun pembenaran terhadap upaya2 Manusia dalam meraih standar tersebut, bahkan ada yang menjadikannya sebagai sebuah persyaratan mutlak untuk masuk ke surga, yang sarat janji-janji diberkati tanpa batas. Sementara disisi yang lain kalau mau jujur, tidak sedikit juga yang rontok lalu undur dari pelayanan, bukan karena pelayanan itu sendiri, tapi lebih kepada memendam kekecewaan, sampai ada yang sakit hati, akibat tidak membekali diri dengan suara hati nurani yang baik, serta  pengertian yang benar, biasanya tersandung oleh ulah sesama pelayan Tuhan juga. Apa sebenarnya yang terjadi?, apakah bisa dipastikan siapa yang kita anggap lebih pantas disebut lebih rohani diantara orang-orang yang notabene kita anggap tidak rohani?

Rasul Paulus menulis didalam Roma 12:11,“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”

Kata layanilah Tuhan bukan berarti sebuah kesempatan untuk menjadi yang paling benar atas suatu keadaan tertentu, kemudian bisa kita klaim secara sepihak, seolah-olah kita sudah menjadi lebih berkenan dari keadaan sebelumnya dibandingkan dengan orang lain. Apalagi untuk tujuan dan maksud melampui  keberadaan dari Tuhan didalam kehendak-Nya yang kita layani. Sebab kalau tidak waspada bisa membuat kita lupa diri, jadi merasa lebih benar dan lebih hebat dari sesama kita yang lainnya, yang belum terlibat dalam suatu pelayanan sejenis dan yang serupa (selevel) dengan kita. Sementara kekristenan bukan dibangun diatas prestasi perbuatan manusia (orang per orang) semata, sekedar membentuk sebuah tradisi yang diwariskan turun temurun bagi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, apalagi dengan cara meniadakan keutuhan sekumpulan kesaksian-kesaksian dari Tuhan melalui mata rantai kesaksian-kesaksian yang pernah Tuhan timbulkan dimasa-masa lalu, dari para tokoh-tokoh iman (Ibrani 11:39-40). Kekristenan terbentuk karena anugerah yang utuh dari Tuhan, yang harus selalu diimani hanya Tuhan saja yang sanggup mewujudkannya didalam diri kita, yang terus menerus tetap selalu diperbaharui oleh Tuhan, ketahapan yang semakin disempurnakan.

Bukan berawal dari pelayanan tapi nilai-nilai ibadah yang bahkan tak terbantahkan oleh dunia

Karena didalam dan melalui ibadah-lah, seseorang dipanggil untuk dibentuk, kemudian melibatkan diri kedalam sebuah pelayanan dengan cara yang benar dan berkenan kepada Tuhan. Didalam ibadah juga, mental seorang Hamba Tuhan terdidik seumur hidupnya (tidak ada istilah pensiun), bukan saja untuk terus menerus saling berbagi dan memberi dalam melayani Tuhan, tapi juga harus mau menerima (memberi diri) dibentuk dan dilayani oleh Tuhan, melalui kepekaannya terhadap sikap dan pelayanan sesama Hamba Tuhan, bahkan terhadap sikap dan keberadaan jemaat sebagai biji matanya Tuhan sebagai sesama umat manusia yang juga dipanggil untuk beribadah kepada Tuhan, dan bahkan terhadap dunia pada akhirnya. Terdidik untuk menjadi semakin peka dan rendah hati terhadap kehendak Tuhan.

Memisahkan pelayanan kepada Tuhan dari sikap hati yang beribadah kepada Tuhan, bukan saja mengakibatkan terjadinya penyesatan, tapi bisa juga melahirkan sikap arogan berupa ketidakpedulian terhadap realitas konkret (tentang) hukum-hukum Tuhan yang berlaku di seluruh Alam Semesta dan isinya, termasuk bumi dan semua yang kita kategorikan sebagai bagian dari kefanaan, yang notabene adalah alat kritikal  Tuhan yang paling tajam, terhadap dinamika pertumbuhan Iman Kristen.

Simak saja panggilan Tuhan atas diri Musa, berikut dengan penugasan-penugasan yang Allah embankan pada diri Musa, kenapa atau untuk tujuan apakah, sehingga Allah mengeluarkan Israel dari perbudakan di tanah Mesir?, bukan untuk melayani Dia, alasan dibalik panggilan tersebut semata-mata, supaya bangsa Israel dapat beribadah kepada Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, seperti yang pernah Allah firmankan kepada Firaun melalui perantaraan Musa hamba-Nya:”sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku (Israel) itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung” 

Kalaupun setelah mereka berhasil keluar dari Mesir, Allah melalui Musa yang menetapkan tugas-tugas pelayanan (Imamat) kepada salah satu suku (Lewi), 1 suku diantara 12 suku dari bangsa Israel, itupun tidak terlepas dari nilai-nilai ibadah yang terkait erat dengan sikap dan perlakuan Allah terhadap bangsa yang dikasihi-Nya, dan diakui-Nya sebagai “Anak-Ku”.

Secara utuh sejak kisah-kisah Abraham-Ishak dan Yakub yang kemudian namanya diganti dengan Israel, hingga masuknya Yusuf (anak Yakub) ke Mesir, sampai kisah-kisah terbentuknya bangsa Israel sebagai sebuah bangsa yang besar di tengah-tengah tekanan Firaun yang tidak mengenal Yusuf (Keluaran 1:12), sesungguhnya adalah sebuah mata rantai ibadah, dalam satu kerangka yang sangat besar tentang sebuah perjalanan spiritual, menyangkut upaya-upaya yang sangat mulia di pihak Allah, menciptakan persiapan-persiapan menyangkut rencana-Nya untuk hadir ke bumi di negeri perjanjian yang pernah Allah janjikan kepada Abraham, sekaligus menggenapkannya, terutama menyangkut Anak Perjanjian yang kemudian benar-benar Allah wujudkan di negeri termaksud.

Dan secara kiasan, semakin diperjelas pengertiannya tidak sebatas berhenti sampai tampilnya Ishak sebagai Anak Perjanjian, bahkan melalui Yakub anak Ishak, Anak Perjanjian itu telah berwujud sebagai sebuah bangsa yang besar, Israel. Sampai tampilah Yesus sebagai sejatinya Anak Perjanjian, yang disebut didalam Ibrani 7:14 dan Ibrani 8:8, sebagai Anak Manusia yang dilahirkan dari tengah-tengah komunitas suku Yehuda, Injil Matius pasal 1:1 juga menyebutkan, sebagai Anak Abraham, Anak Daud, yang kelak berdasarkan nubuatan saat itu, sekarang telah tampil sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Terdidik dalam ibadah juga untuk menghormati hukum-hukum Tuhan.

Alkitab tidak pernah menempatkan kata layanilah Tuhan (melayani Tuhan), kedalam kerangka yang setara dengan 2 kata: “agung” dan “rahasia”, yang disebut sebagai paling selaras dan paling bersepadan dengan keberadaan rahasia Tuhan, melalui karya keselamatan yang Dia sediakan bagi umat-Nya, seperti yang disebutkan oleh Rasul Paulus didalam 1 Timotius 3:16, Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita:”Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.

Artinya, tanpa disertai sikap sebagai seorang pelayan Tuhan yang memiliki hati yang beribadah kepada Tuhan, cepat atau lambat seseorang akan kehabisan spirit (kasih mula-mula) untuk tetap bisa sebahasa dengan Tuhan dan terdidik oleh Tuhan yang dilayaninya (pertumbuhan Iman ; 2 Petrus 1:5-9)), akibatnya jangan heran, kalau dunia melalui seorang Fisikawan Modern sekaliber Stephen Hawking, ketika menyebut kisah-kisah tentang keTuhanan, secara kontroversial menyebutnya sebagai sebatas dongeng dan isapan jempol belaka. Ini sebagai akibat dari, kurangnya perhatian Umat Tuhan terhadap realitas konkret, yang notabene, sumbangsihnya juga kita pergunakan untuk menopang pekerjaan Tuhan. (bandingkan dengan Matius 7:21)

Hawking sebagai individu, mewakili hikmat dunia, yang lebih mengedepankan pembuktian kreativitas akal budi melalui ketepatan dan kepastian penalaran yang rasional, pengamatan terhadap hukum-hukum kebendaan dan benda-benda alamiah kasat mata (kefanaan), meragukan keyakinan umat beragama terhadap eksistensi keberadaan Tuhan, (bahkan bisa jadi Tuhan-pun meragukan, bandingkan dengan Matius 7:21). Sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar umat, lebih banyak menutup (diri) mata terhadap pentingnya tahap pelaksanaan, terutama menyangkut hukum keteraturan (organizing system), selain hanya sebatas berbicara dan membahas tentang Tuhan dan Tuhan semata.

Sementara tujuan dari pelayanan kepada Tuhan, dalam pandangan Firman Tuhan berdasarkan 1 Timotius 3:16 adalah, bahkan supaya dunia-pun kelak, pada akhirnya mau mengakui, bahwa berita tentang Allah menjadi manusia, bukan hanya sebatas pewartaan agamis (berita/dogma agama/koseptual) yang serba berbahasa dogmatis tentang keberadaan Tuhan dengan penafsiran literalnya yang serba kaku (ketiadaan nilai-nilai atau dinamika), sebaliknya harus sampai berbuah kepada kebijakan, sikap dan tindakan, untuk menjadi lebih dewasa dalam memaximalkan akal budi, minimal untuk menghormati dan memahami, bahwa seluruh kreativitas akal budi (secara kolektif), terhadap realitas konkret yang ada di bumi, tempat seluruh umat manusia berpijak, juga merupakan sebuah keniscayaan, yang terbentuk dari kejatuhan manusia kedalam dosa, yang sekarang telah berbuahkan beragam pengetahuan, hal yang patut kita bedakan dengan dosa itu sendiri. Hal-hal yang sifatnya eksak, teoritikal, sampai kepada hasil-hasil observasi berdasarkan pengamatan empiris  (bukti/konskwensi hasil pengamatan Indera),  yang sudah pasti jelas berbeda, dengan bahasa-bahasa, keadaan-keadaan, pemikiran-pemikiran, tentang adanya Tuhan, surga, malaikat-malaikat, neraka dan setan-setan (hal-hal yang sifatnya kekal).

Kitab Mazmur 119:1-2, juga menyatakan secara terbatas, bahwa Alam Semesta (Alam Kodrati) punya pola dan cara tersendiri dalam mengungkapkan misteri tentang keagungan, kemuliaan serta kebesaran Sang Pencipta, disana (alam semesta beserta seluruh isinya), baik tampak luarnya, sampai struktur dan mekanisme kerjanya yang paling dalam, berupa partikel-partikel persenyawaan, yang hampir tidak bisa terdeteksi secara kasat mata, jika tanpa bantuan peralatan dan prisma (metodologi menyangkut bentuk/ruang 3  dimensi) yang mendukung, merupakan penjelasan2 detail dan sangat komplex berupa hukum-hukum kebendaan, yang merefleksikan bukan saja keAgungan Tuhan, tapi juga kecerdasan dan ketelitian yang Maha Akurat dari Sang Pencipta, yang dikalangan para Fisikawan diberi identitas Ilmiah, sebagai ketiadaan (belum ditampakan).

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;  Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi, Ia memasang kemah di langit untuk matahari.”

Diterima atau tidak kebenaran tentang keabsahan serta kedaulatan kejujuran hukum semesta berikut dengan isinya, pada gilirannya juga mau tidak mau harus diakui telah banyak memberikan sumbangsih kemanfaatan, dalam mendukung pelayanan-pelayanan bagi pekerjaan Tuhan di akhir zaman ini. Rasul Paulus-pun, didalam Roma 1:20, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan ke-Ilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih menimpali dan merespon kebimbangan dan keraguan umat terhadap eksistensi hukum – hukum Tuhan, yang sedang melanda umat  Tuhan saat itu, yang sekarang  juga bisa menjadi sebuah peringatan untuk kita yang hidup di era paling akhir ini.

Relasi Hukum Taurat dan Hukum Semesta dalam kaitannya dengan Hukum Akal Budi

Didalam Injil Matius 5:17-18 disebutkan bahwa kedatangan Yesus, tidak dimaksudkan untuk meniadakan Hukum Taurat dan kitab Nabi-Nabi. Untuk itu Hukum Taurat akan tetap berlaku selama alam semesta masih ada, karenanya Yesus sendiri memiliki kepercayaan yang kokoh terhadap nilai-nilai mulia yang ada pada hukum Taurat dan kita para Nabi, sekalipun di realitasnya tidak mungkin ada manusia yang sanggup menyelaraskan dan menyesuaikan sikap dan perbuatannya secara utuh terhadap semua aturan-aturan yang tertulis dalam Taurat dan kitab nabi-nabi apalagi untuk tujuan keselamatan dari malapetaka dosa. Tapi disinilah fakta keselamatan yang Yesus ajarkan dan telah Dia buktikan:

Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk kedalam Kerajaan Surga – Matius 5:20.

Berarti ada satu nilai yang sangat sempurna yang Tuhan janjikan kepada kita, bahwa jika kita benar-benar hidup didalam ajaran Kristus yang sehat, bukan serta merta sekedar percaya dan berseru-seru kepada Tuhan, kemudian menjadi berbuah kepada pemujuaan terhadap Tuhan konseptual , lebih dari itu adalah, kita juga akan ditempatkan pada satu kedudukan yang benar-benar teruji karena tidak dapat lagi digugat secara, dihadapan dan oleh hukum  apapun. Dengan demikian kita tidak berdosa dihadapan Tuhan yang telah berjuang habis-habisan demi rencana keselamatan-Nya bagi kita, karena didalam kekuatan Roh-Nya, bersama dengan Dia kita mau sepakat dan bersehati menempatkan semua aturan-aturan hukum pada standar yang selaras dengan belas kasihan-Nya, tidak kita rendah dan gampangkan apalagi untuk ditiadakan.

Hal tersebut bisa kita pelajari dari figur seorang Rasul Paulus, sebagai seorang manusia, jauh sebelum dia mengenal Kristus dengan kekuatan akal budinya, dia sukses menjadi seorang Farisi yang disegani, seorang ahli kitab yang terdidik yang sangat menguasai kaidah-kaidah hukum yang ada dalam Taurat, sekalipun tanpa kebenaran karna Iman (Kristus). Dengan ketajaman penalaran dan akal budinya dia bisa menjelajah ruang-ruang hukum yang sangat ketat, sebenarnya ini kan tidak beda juga dengan seorang Stephen Hawking yang dihujat oleh banyak para tokoh agama diseluruh dunia, karena dianggap tidak mengakui keberadaan Tuhan demi alasan temuannya terhadap struktur dan kreasi independensi hukum alam semesta.

Apalagi kalau mau disebut sebagai kejahatan, apa bedanya dengan kejahatan yang telah diperbuat oleh seorang Saulus (Paulus) yang pernah membunuh banyak pengikut Kristus?. Pertanyaannya adalah, jika suatu suatu saat seorang Hawking menerima kemurahan dari Tuhan untuk mengenal Kristus seperti yang dialami oleh Paulus, apakah semua wawasan hukum dalam bentuk akal budi yang telah dia miliki jadi tidak berguna lagi dalam memberikan kemanfaatan?, kemudian kita semena-menakan dan artikan secara terbatas sebagai sampah?, mengutip ayat favorit yang acap digunakan sebagai argumen untuk meniadakan fungsi dan manfaat akal budi, tentu bukan seperti itu maksud penulisan Paulus dalam Filipi 3:8, karena kata sampah yang dimaksud dalam ayat tersebut, menunjuk kepada sebuah periode atau masa-masa sebelum dia bertemu dengan Kristus (ketiadaan kristus), bukan akal budinya, apalagi hukum Taurat, demikianlah dengan hukum semesta.

Bukankah seluruh kebenaran yang datangnya dari Allah melalui kebenaran Kristus adalah untuk menempatkan kita kembali kepada sudut pandang yang benar, sebagaimana Dia memandang seluruh kebenaran dan kreasi ciptaan-Nya sendiri?, yang notabene telah banyak memberikan manfaat dalam keseharian kita sebagai instrumen kehidupan, bukan saja hati bahkan akal budi, terhadap realitas seluruh ciptaan-Nya, seperti yang tertulis didalam Ibrani 10:16, sebab setelah Ia berfirman: “Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati  mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka.

  1. as a servant of God must always :Be Humble and obey Our LORD ,Jesus Christ.Amen

  2. Meinarti Arbaini

    Ini bersambung ya?, sambungannya di sebelah mana?, Gbu.

  3. Apa 10 hukum Tuhan masih harus di ikut dalam gereja atau semua sudah di genapi Dalam Tuhan Yesus ? GBU

    • Terima kasih sebelumnya untuk partisipasinya Sdr. Timotius, kalau anda baca dalam Matius 5:17, disana jelas dikatakan oleh Yesus, bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan Taurat dan Kitab Nabi2, melainkan untuk “menggenapinya” yang dalam bahasa aslinya disebut “Ploreo”.

      Ibarat gelas kosong, yang tidak akan pernah bisa terpenuhi air, bahkan oleh para tokoh2 Iman dimasa-masa Perjanjian Lama, oleh karena sifat2 pendosa (tubuh maut), yang melekat pada tubuh alamiah mereka (sama seperti keadaan kita sekarang), yang adalah warisan dari tubuh Adam, yang telah jatuh kedalam dosa, sejak (melalui) kematian dan kebangkitan Yesus, gelas itu sudah terpenuhi, dan tidak akan pernah bisa terpenuhi oleh yang lain, selain oleh Dia. Apalagi, alasannya adalah semua, yg tertulis didalam Kitab taurat (termasuk 10 Hukum), dalam pandangan Tuhan harus terlaksana secara utuh, menyeluruh dan secara sempurna

      Pertanyaan sekarang adalah:
      1. apakah kita sudah benar2 percaya (mempercayakan diri secara utuh, baik keselamatan tubuh, jiwa, dan roh kita) kepada Yesus yang telah memenuhi semua tuntutan yang tertulis dalam kitab Taurat?, sementara ukuran percaya atau tidak, nilainya tetap berada didalam konteks ‘Anugerah” dan kemurahan hati Tuhan, dan bukan hasil perbuatan atau upaya manusia (Yohanes 3:16).

      2. dan kalaupun kita percaya, bukti bahwa percaya kita kepada-Nya, bukan hasil kreasi dan usaha kita, kata “tidak binasa” (menang atas maut, yg ada didalam Yohnes ;16, terwujud melalui sebuah ujian Iman, ditengah-tengah realitas Maut yang sehari-hari kita rasakan, ada tersebar didalam keinginan daging yang ada dalam tubuh alamiah kita. Galatia 5:16-21.

      ALASAN2 KENAPA YESUS MENGATAKAN TAURAT MASIH BERLAKU SELAMA LANGIT DAN BUMI BELUM LENYAP?

      1. Rasul Paulus mengatakan didalam 1 Timotius 1:9, karena selama langit dan bumi masih ada, di bumi ini masih akan ada dosa, dalam bentuk perbuatan2 orang durhaka dan orang lalim, orang fasik dan orang berdosa, orang duniawi dan yang tak beragama, pembunuh bapa dan pembunuh ibu, dan perbuatan2 pembunuh pada umumnya, Hal mana Tuhan, melalui keberadaan kita yang tidak hidup dalam Taurat lagi, juga sedang merancangkan keselamatan untuk mereka kelak.

      2. Sebagai instrumen (alat panduan) Tuhan, bagi orang2 yang masih berbuat dosa, dituntun (dipimpin) kepada kematian karna dosa, untuk sampai kepada pengenalan akan Kristus, sebagai Roh Allah yang membangkitkan. (2 Korintus 3:7).

      3. Sebagai alat Tuhan untuk selalu menyadarkan dan meningatkan kita, tentang adanya dosa (tidak lupa diri/sombong), bahwa tubuh alamiah kita masih hidup di bumi yang sudah dikuasai oleh dosa dan kejahatan. (Roma 2:21 ; Roma 13:9 ; Efesus 4:28).

      4. Sebagai Alat Tuhan untuk menimbulkan Hukum Akal Budi/pengertian2 didalam diri kita, menjadi alat dan pelayan terhadap poin 1,2,3 (Ibrani 10:16 ; Roma 7:23-25), sehinga perjuangan kita didalam Iman kepada Kristus menjadi efektif dan terarah pada sasaran yg benar, sesuai dengan tujuan dari Hukum2 tersebut.

      5. Menopang Alam Semesta, agar tidak runtuh. Sebenarnya seluruh Ilmu pengetahuan, adalah, hasil perwujudan dari refleksi 10 hukum Taurat, seklaipun hukum taurat, baru diperkenalkan kepada manusia, jauh setelah Tuhan menciptakan Langit dan bumi. Bisa dikatakan, bahwa Hukum apapun yang brlaku di semesta ini, yg kemudian Allah perkenalkan kepada Israel melalui Taurat, adalah suatu Kecerdasan Kosmos yg tertingi (Istilah science), atau bayangan dari Kasih Allah, yg tersembunyi didalam segala sesuatu, dan menembus menghidupi, menyelidiki, menyadarkan, percaya, mengharapkan serta menutupi segala sesuatu. 1 Korintus 13:7.

      APAKAH TAURAT MASIH PERLU DIAJARKAN DI GEREJA?

      Kalau menyangkut yg satu ini, ya saya kembalikan kepada kebijakan masing2 Gembala Sidang, yg jelas yg patut digaris bawahi adalah, keselamatan dari Yesus punya standar, bahwa, Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:20) ~Salam Damai Sejahtera~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: